Syair Ayat-ayat Cinta

February 14th, 2008 by brigjen-sorong

Taipei, 15 Februari 2008

Alhamdulillah,
dapat juga video sundtracknya Ayat-ayat Cinta. Filmnya sih memang agak
aneh. Tetapi saya akui syair lagunya sangat menyentuh. Hanya satu orang
yang teringat dalam benakku saat mendengar lagu ini, istriku tercinta
Alia Prima Dewi yang sudah 6 bulan tidak pernah kulihat lagi wajahnya.
I miss her very much. Anyway, video ini pun bisa didownload dari URL :


http://www.youtube.com/watch?v=aRPORLQCXwE&feature=related

============================================================


Ayat-ayat Cinta OST by Rossa (Made by Adam Huud)

Desir pasir di padang tandus
Segersang pemikiran hati
Terkisah ku di antara cinta yang ruhwi

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan

Reff :

Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin kucegah
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu

Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan

Reff :

Maafkan bila kutak sempurna
Cinta ini tak mungkin kucegah
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu

Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Ketika ku bersujud

Kang Abik dan dua sisi Ayat-ayat Cinta

February 14th, 2008 by brigjen-sorong

Tak ada satu penulis novel cinta bernuansa Islam yang saat ini lebih
terkenal dibanding Habiburrahman El Shirazy atau biasa dipanggil kang
Abik. Ayat-ayat cintanya sudah diangkat ke layar lebar, sementara
dwilogi pembangun jiwanya dalam "Ketika Cinta Bertasbih" laris manis di
pasaran. Walaupun dua novel terakhirnya tidak pernah bisa saya
selesaikan. Bukan tidak mau, atau tidak ada waktu. Tetapi saya pun
bingung mengapa saya tidak bisa menyelesaikan buku "Ketika Cinta
Bertasbih" yang begitu penuh penghayatan, tidak begitu jauh dengan
masterpiece Ayat-ayat Cinta.

Tidak dipungkiri, seorang penulis
cerita yang jenius adalah mereka bisa membuat cerita yang membawa
pembacanya untuk tidak sekedar membaca. Tapi juga menghayati isi bacaan
yang ditulisnya dengan bahasa yang sederhana tapi menghanyutkan. Jika
misalnya tulisan itu menulis tentang cinta, maka si pembaca diajak
untuk menghayati tentang cinta itu. Jika tulisan itu mengenai
kemiskinan, maka si pembaca! pun terhanyut dalam relung-relung
kesusahan lahir dan batin serta bisa meresapinya. Bahkan jika kisah itu
bercerita tentang dendam dan kebencian, maka si pembaca pun terhanyut
untuk merasakan seperti apa dendam dan kebencian yang dirasakan di
dalam buku. Hanya sedikit penulis yang seperti itu. Saya pribadi
merasakan hal itu dalam beberapa karya sastra semisal Sir Arthur Conan Doyle dalam seri-seri    Sherlock Holmesnya atau beberapa syair Jalaludin Rumi.

Kang
Abik bisa dibilang sedikit masuk ke kategori itu. Sedikit karena
spesialisasinya adalah soal-soal berbau "cinta". Dan memang penghayatan
itu bisa sangatlah dalam jika kita melihat karya-karya beliau. Ditambah
dengan begitu banyaknya pemuda-pemudi Islam di tengah benturan
peradaban modern namun tengah mencoba mencari makna cinta dalam Islam,
buku-buku kang Abik makin menemukan segmen pembacanya di Indonesia.
Impian tentang mendapatkan jodoh dan pujaan hati, berbalut keindahan
suasana kota Mesir yang selalu tercantum di bukunya, dan akhir yang
indah. Orang bisa bilang ini hanya mimpi, tapi inilah impian semua
orang. Sangat manusiawi, sangat manusiawi.

Dan justru karena
karya sastra beliau sangat manusiawi itulah terkandung pula
kelemahannya. Karena "cinta" yang awam adalah cinta yang penuh dengan
emosi. Sedih, gembira, gelisah, kecewa, dan sebagainya. Dan saat cinta
bertemu dengan emosi manusiawi itulah timbul kelemahan. Apalagi jika
tidak memahami seperti apa cinta tidak diletakkan dengan baik dan
benar. Maka cinta akan terbagi ke dua kutub. Di satu kutub ada mereka
yang dimabuk cinta dan disisi lain ada barisan patah hati.

Makanya jika dicermati, dalam karya-karya kang Abik pun ada    tokoh-tokoh patah hati. Dalam Pudarnya Pesona    Cleopatra tokoh itu adalah Raihanna, istri yang tersia-sia sampai akhir    hidupnya dan sang suami yang menyesal di akhir. Dalam Ayat-ayat Cinta, tokoh itu adalah Maria    Ghirgis yang baru menemukan cintanya di nafas-nafas terakhir hidupnya. Dalam    Ketika Cinta Bertasbih 1,
tokoh itu adalah Fadhil sang pemuda Aceh yang dengan tegar bernasyid
pada pernikahan gadis yang sedianya akan dia lamar namun urung terjadi.
Sedangkan di buku Ketika Cinta Bertasbih 2,
tokoh itu adalah Furqan Andi Hassan yang harus kehilangan gadis
impiannya hanya karena ketidak tahuannya terhadap penyakit AIDS.
Pembaca karya kang Abik mungkin akan lebih terbawa pada kisah tokoh
utamanya yang selalu happy ending. Siapa yang tidak ingin bahagia
seperti Fahri di Ayat-ayat Cinta atau Azzam di dwilogi Ketika Cinta
Bertasbih. Dan wajar jika seorang penulis lebih memfokuskan alur kisah
pada sang tokoh utama.

Namun pernahkah kita berpikir kalau kita
berada tidak sebagai pemeran utama yang happy ending, tapi justru pada
si patah hati itu ?? Tentu akan begitu menyedihkan. Bagaimanakah
kiranya kesedihan Fadhil dibawa dalam Ketika    Cinta Bertasbih,
dan adakah dia menemukan ganti yang lebih baik, sampai akhir buku pun
tidak diceritakan. Makanya, bagi mereka yang menggilai "Ayat-ayat
Cinta" dan sebangsanya, saya justru melihat kelemahan lain dari sisi
ini. Pada tokoh patah hati yang jauh lebih tidak jelas nasibnya.

Baiklah,
kita bisa berkata bahwa setiap orang punya takdirnya sendiri. Dan tidak
sehelai daun pun jatuh ke bumi kecuali atas izin Allah, apalagi masalah
jodoh. Namun kita berhadapan dengan hati manusia, yang setelah terluka
belum tentu akan langsung sembuh. Butuh waktu, butuh proses dan entah
apa yang akan terjadi dalam proses dan waktu itu. Sebuah hikmah pun
kadang akan terasa sakit jika diingat. Jika hikmah itu adalah sebuah
harapan, dan harapan itu kemudian tidak terjadi. Entah dalam bentuk
perjodohan yang tidak tercapai, optimisme akan nilai ujian yang bagus
namun rupanya tidak tercapai, hangusnya peluang mendapat beasiswa
karena salah melihat deadline tanggal, dan lain sebagainya.

Begitupun
jika cinta hanya dimaknai sebagai nuansa "merah jambu". Padahal di
seberang pemenang ada si patah hati. Seperti halnya kisah romantis Marc
Anthony dan Cleopatra dibangun diatas keping-kepingan hati dan
keruntuhan kekuasaan Julius Caesar yang juga mencintai Cleopatra.
Seperti halnya kawan yang pernah mengatakan kepada saya "Ayat-ayat
cinta cuman cocok buat orang yang mau nikah, bukan buat orang yang lagi
patah hati". Manusiawi, punya kelebihan dan kekurangan sekaligus.

Entahlah,
saya pun masih belajar untuk semuanya di universitas kehidupan. Maka
saat kita berbicara mengenai cinta, mengenai harapan, syair-syair
Cinta, pandanglah dengan jernih. Dia impian idealita di satu sisi, dan
kepastian untuk kehilangan di sisi lain. Namun tidak akan rugi orang
yang menempatkan cintanya pada sesuatu yang Maha Tinggi, dia yang
menganugerahkan cinta untuk dikenal oleh manusia.

Tempatkan cinta di tempat yang benar, di sisi Allah, SWT.    Dan…….bacalah apapun yang bermanfaat . Reader    today, leader tomorrow.

Salam.

- Nobody is perfect
- I am    nobody

Rizki Ramadhani
Taipei,    Taiwan
15 Februari 2008

Pesan “cinta” apa di “Ayat-ayat Cinta” ???

February 12th, 2008 by brigjen-sorong

Sekedar komentar mengenai film "Ayat-ayat Cinta" karya Hanung Bramantiyo.

"Inikah
film yang diangkat dari novel Ayat-ayat Cinta itu ?". Mungkin inilah
pertanyaan di kepala saya selepas menyaksikan film Ayat-ayat Cinta.
Sudah tidak terhitung kawan-kawan yang nyeletuk soal ini, sampai
menunggu kapan film ini dirilis. Menarik, mungkin karena filmnya adalah
film yang diangkat dari salah satu novel Islami terlaris karangan
Habiburrahman El Shirazy, dengan isi yang penuh penghayatan terhadap
cinta dan cukup mengharu biru, dengan dibungkus latar kisah anak
manusia di negeri Mesir.

Pantas saja orang kemudian
bertanya-tanya apa jadinya jika novel yang penuh nilai-nilai spiritual
seperti ini kemudian diangkat kedalam film. "Cinta" seperti apa yang
kemudian dibicarakan, sementara tafsir cinta sendiri begitu banyak
dibicarakan dalam berbagai karya-karya Islam, tidak hanya dalam novel
Ayat-ayat Cinta yang menjadi sumber film ini ?

Sebagai muslim,
saya meyakini bahwa cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya. Dan cinta-cinta yang lain bersumber dari cinta tertinggi
ini. Sayangnya cinta hampir selalu diidentikkan dengan nuansa "merah
jambu", kisah kasih dua muda-mudi yang merasa dunia menjadi milik
berdua. Maka "cinta" pun terjebak saat akan digambarkan. Seperti apa
esensi cinta yang terlukis ?? Dia bisa jadi agung dan mengharu biru di
satu sisi, namun kemudian berubah menjadi picisan di sisi lain.

Film "Ayat-ayat Cinta" ini pun masih terjebak dalam problema yang sama. Tokohnya memang sama persis. Masih ada Fahri, mahasiswa Indonesia
yang kuliah di Al-Azhar Mesir dengan sifatnya yang sederhana, taat
beribadah, dan senang membantu, Maria Ghirghis seorang Kristen Koptik
yang tinggal di lantai atas flat milik Fahri dan memendam cinta pada
Fahri, dan Aisha sang gadis Jerman keturunan Turki yang kaya raya namun
bersahaja. Ditambah juga tokoh-tokoh lain seperti Noura, Syaiful,
Nurul, dan lainnya.

Alur pun secara umum masih sama, walaupun
dengan penyesuaian dan pemotongan di sana sini. Sayangnya titik berat
film ini lebih banyak pada masalah Fahri di pengadilan. Sedangkan awal
film yang semestinya bisa memberi penggambaran tentang proses
pernikahan yang baik dan bagaimana pertimbangan Fahri dalam memilih
pasangan sebagai contoh seorang pemuda yang ingin menikah banyak tidak
tergambar utuh, sehingga yang tampak malah seorang Fahri yang diburu
gadis-gadis. Lengkap dengan surat cintanya masing-masing. Porsi tentang
muhasabah menuju jenjang pernikahan yang semestinya bisa menjadi
penyampaian pesan "Ayat-ayat Cinta" justru tidak tergambar baik.

Dengan
bersumber pada sebuah novel yang bernafaskan nilai-nilai keislaman,
"Ayat-ayat Cinta" pun sebaiknya ditampilkan dengan hati-hati. Sudah
semestinyalah adegan-adegan yang "berlebihan" seperti (maaf) adegan
berciuman tidak perlu ditampilkan di film "Ayat-ayat Cinta" ini, agar
tidak menimbulkan bias pada pesan cinta yang ditampilkan. Bukunya pun
tidak pernah sampai menuliskan peristiwa berciuman seperti yang
ditampilkan di film.

Walaupun demikian, film ini bukannya tanpa
bagian yang menarik. Adegan 20 menit terakhir film ini mungkin akan
menjadi pertentangan antara mereka yang pro dan anti poligami. Bukan
apa-apa, adegan Fahri yang kemudian beristri dua dengan Aisha dan Maria
ini digambarkan dengan jelas lengkap dengan seluk beluk
permasalahannya. Entah apakah ini improvisasi sang sutradara. Karena di
bukunya, walaupun Fahri menikahi Maria, pernikahan itu begitu singkat
dikarenakan penyakit Maria yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi
sampai akhirnya meninggal. Tapi ayat-ayat Cinta versi layar lebar
justru memperpanjang kisah pernikahan yang kedua ini, menimbulkan beda
yang besar dengan yang ada di buku, dan alur yang bias walaupun tetap
dengan ending sebuah kematian. Saya sedang tidak membahas tentang
poligaminya, tapi penonton bisa menyimpulkan sendiri nanti setelah
menyaksikan film ini.

Saya pribadi berpendapat sebaiknya
"Ayat-ayat Cinta" tak perlu difilmkan. Biarkan dia tetap di buku dan
interpretasinya diserahkan kepada masing-masing orang yang membaca.
Pesan dan penghayatan akan cinta kepada manusia atas dasar cinta kepada
Yang Maha Kuasa lebih tercapai, ketimbang berusaha menampilkannya dalam
bentuk yang setengah-setengah sehingga penonton akan bingung apakah dia
menyaksikan sebuah film bertemakan Islam dengan pesan cinta ataukah
malah sebuah film remaja.

Saya juga berharap film ayat-ayat
Cinta ini pun memang digarap sebelumnya secara profesional. Karena
begitu banyaknya film-film atau sinetron-sinetron Indonesia
yang dicap plagiat dengan banyak menyadur unsur-unsur dari film
lain.Film "Ayat-ayat Cinta" pun sama. Musik latar yang dipakai pada
adegan pernikahan Fahri dan Aisha yang penuh kegembiraan jelas-jelas
diambil dari musik latar film Taegukgi
dari Korea Selatan, yang ironisnya justru menceritakan tentang perang
Korea yang tragis. Musik latar ini pun begitu sering dipakai dalam
berbagai adegan dalam film Ayat-ayat Cinta. Entah apakah Hanung
Bramantiyo sebagai sutradara sudah mendapatkan izin untuk menggunakan
lagu ini dalam filmnya. Ada juga musik-musik latar yang saya rasa
diambil dari film lain, tapi saya kurang tahu jelas. Saya harapkan sih
minimal memang sudah ada izin, karena sungguh memalukan kalau sekali
lagi film Indonesia masih meneruskan budaya "plagiarisme" -nya.

Semoga
film "Ayat-ayat Cinta" juga tidak menimbulkan kesan cinta muda-mudi
yang berlebihan. Apalagi saya pernah mendengar kabar bahwa film ini
akan dirilis pada tanggal 14 Februari nanti yang justru bertepatan
dengan Valentine’s Day. Akan begitu  aneh jika itu terjadi sedangkan film ini justru diangkat dari sebuah novel yang menggunakan nilai-nilai Islami.

Rizki Ramadhani
Taipei, Taiwan

13 Februari 2008

Xin nian kuai le (2008)

December 31st, 2007 by brigjen-sorong

Xin nian kuai le

Inilah tahun baru pertama saya di luar negeri. Alhamdulillah, saya bisa mengalaminya juga. Ini impian masa kecil yang terkabul.

Ramai
sekali malam tahun baru di Taipei. Dunhua Road sampai diblok karena
membludaknya pengunjung di depan Sun Yat-Sen Memorial Hall yang ingin
menyaksikan pesta kembang api di Taipei 101.

Pesta kembang api
di Taipei 101 malam ini cukup meriah. Pemerintah Taiwan bahkan kalau
tidak salah menyiapkan kurang lebih 3.1 juta NT dolar untuk pesta
kembang api ini. Yang terbesar bahkan. Wajar sih karena sepertinya
tahun 2007 adalah terakhir kalinya Taipei 101 menjadi bangunan
tertinggi di dunia. Tahun 2008 ini, rekor bangunan tertinggi di dunia
akan dipegang oleh Burj Dubai di Uni Emirat Arab yang akan segera
diresmikan. "Menara Babel" berikutnya.

Walaupun suhu malam ini
mencapai 12 derajat celcius, tapi suasana begitu ramai. Kami berlima
tadi, aku, Rocky, Pak Dedi yang calon direktur LIPI (he…he…), Jaya
"Big Zay" dengan kamera barunya (^ __ ^) dan seorang kawan dari Taiwan.
Berteman minuman hangat, dibawah kembang api warna warni, menikmati
malam tahun baru di Taipei.

Aku bukan tidak bersimpati dengan
kondisi di Tanah Air, cuman ada kalanya kita behenti sejenak untuk
mengumpulkan kekuatan lagi. Sembari mengambil hikmah dari setiap
kondisi yang kita alami. Itulah tadi yang kami alami berlima di
lapangan Sun Yat-Sen Memorial Hall.

Memperbaharui semangat, menggagas harapan kembali. Oke, apa harapanku di hari yang baru. Hmmm….R A H A S I A. (^ __ ^)

Yang jelas selalu untuk hal-hal yang positif. Wish you the best for the coming 2008. Salam hangat dari Taipei.

- Ma Fu-Yue -

Pernikahan “Singkat” di awal, sebuah trend ????

December 26th, 2007 by brigjen-sorong
Saat aku menerima pesan di YM dari kawan di Taiwan
yang menyatakan bahwa dia akan menikah awal 2008 nanti, aku bersyukur
sekaligus bertanya-tanya. Bagus memang karena dia akan menikah, tapi
dia masih harus melanjutkan pendidikannya di Taiwan
setahun lagi. Dan yang luar biasa, calon suaminya sampai saat ini juga
masih berstatus mahasiswa di Jerman dan masih harus melanjutkan kuliah
setahun atau dua tahun lagi. Artinya, mereka berdua akan menikah di Jakarta nanti. Kemudian bersama-sama selama liburan musim dingin yang hanya sekitar dua minggu di Indonesia . Dan kemudian kembali ke tempat masing – masing. Satu di  Taiwan, satu di Jerman. Satu di timur, satu di barat, dan berpisah minimal setahun.

      

Mungkin yang teringat dalam pikiranku adalah kondisi pribadiku sebelum berangkat ke Taiwan . Menikah baru 2 minggu, dan sudah harus meninggalkan keluarga untuk berangkat ke Taiwan . Sempat ada juga yang mengolok – olok aku dalam hal ini, tetapi sesampainya aku di Taiwan . Rupanya aku baru sadar kalau “kasus” seperti aku tidak sedikit.

 

Ada kawan di Taipei yang juga sama. Baru menikah sebulan, kemudian pisah karena dia harus melanjutkan  pendidikan di Taiwan. Sementara istrinya juga mesti melanjutkan pendidikan ke Melbourne , Australia . Ada senior Ph. D. juga, kasusnya tidak begitu ekstrem sih tapi tetap aja unik. Beliau kuliah di Taiwan , akan segera melanjutkan lagi ke Jepang, dan selama kuliahnya di Taiwan
sempat meninggalkan istri yang saat itu dalam keadaan hamil. Dan
istrinya saat itu sedang kelanjutkan pendidikan di Malaysia . Jadilah
harus bolak-balik TaiwanMalaysia
. Aku jadi teringat juga sebelum berangkat ada juga kawan yang
meninggalkan istri dalam keadaan hamil untuk melanjutkan pendidikan di
Singapura.

      

Sedikit
unik. Menikah sebentar, kemudian pisah untuk waktu yang tidak
ditentukan. Bisa cepat, bisa lama. Aku pernah ngobrol mengenai hal ini
dengan rekan mahasiswa internasional asal Spanyol di Taipei.
Dia kaget saat tahu aku sudah menikah di umur 23, dan kaget juga
mendengar “kasus-kasus” seperti ini. Rumit banget katanya, kenapa gak
tunda dulu nikahnya sampai sesudah kembali lagi ke tempat asal.
Entahlah, mungkin dia yang berasal dari Spanyol, wilayah Eropa yang
sudah jelas banyak terjadi seks bebas menganggap metode nikah ’singkat’
di awal ini aneh.

 

Tapi
dengan adanya banyak kasus, aku juga jadi bertanya-tanya. Sebenarnya
kenapa mulai banyak terjadi hal ini. Terutama bagi para mahasiswa yang
akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Hal seperti ini tidak bias dibilang salah. Ada positif maupun negatifnya.

      

Mungkin
positifnya adalah adanya komitmen di awal. Sehingga para pengantin baru
yang akan menempuh kuliah di luar negeri tidak repot-repot memikirkan
urusan nikah dan jodoh, serta lebih fokus saat kuliah nanti. Dan itu
menjamin mahasiswa yang di luar negeri tidak ‘macam-macam’ (tidak
‘macam-macam’ ???? apa artinya nih, positif atau negatif ?? Ha…ha…).

 

Tapi
di sisi lain, masa awal yang singkat ini tentu akan menyulitkan bagi
pengenalan awal kedua pasangan yang baru menikah. Masa-masa awal
pernikahan yang mestinya diisi dengan saling mengenal kedua pasangan
pun harus diinterupsi karena kewajiban untuk menuntut ilmu di tempat
yang jauh untuk waktu yang bisa jadi lama. Kemudian berganti jarak yang
jauh dan rasa saling percaya di antara kedua pasangan yang mesti
dipertebal dalam waktu-waktu mereka berpisah.

      

Positif ada, negatif juga ada. Cuman dengan semakin banyaknya trend seperti ini, setidaknya yang saya lihat di Taiwan
ditambah cerita beberapa kawan-kawan yang juga sedang kuliah di luar
negeri, apakah memang metode nikah ‘singkat’ diawal ini jadi tren bagi
kawan-kawan yang akan kuliah di luar negeri ??? Apakah mereka sudah
memikirkan sisi psikologis, dan juga lain sebagainya ketimbang
memfokuskan kuliah dulu ???

   

Sebenarnya ini pun pertanyaan yang kembali kepada diri saya sendiri. Karena saya pun berada dalam lingkaran itu. Hmmmm…….mungkin
satu hal yang mendorong hal itu adalah kepastian (kepastian bahwa
pujaan hati gak disambar orang kali ha…ha….) .

Lagipula
tergantung seperti apa kita merencanakan kuliah, kita pun bisa membawa
serta pasangan atau minimal bolak-balik (kantong yang kempessssss…….).
Pengalaman kawan-kawan yang sudah mengalami masa nikah ‘singkat’ diawal
menunjukkan bahwa mereka bisa menempuh itu sebagai ujian. Dan mereka
bisa menjalani itu dengan baik, walaupun menikah dengan proses yang
cepat, waktu yang cepat, hanya bersama-sama diawal dalam waktu yang
singkat, dan kemudian berpisah.

 

Bukankah Adam dan Hawa juga pernah terpisah sejauh Padang Arafah dan Hindustan . Atau Ibnu Hazm yang orang Cordova
harus terpisah dari istrinya yang keturunan berber Maroko dalam
sejarah. Buat yang nanti mau kuliah ke luar, dan memutuskan nikah dulu,
yah bias melihat lah dan mempertimbangkan kondisi yang ada.

      

Sementara
itu kembali ke kawan yang mau nikah dan segera ‘berpisah’ itu,
fiuhhhhhh……aku gak bisa bayangin deh. Kupikir aku sudah contoh paling
‘gila’ yang sudah ada dalam sejarah pernikahan. Mungkin suatu saat ada
dua orang, satu bekerja di kutub utara dan satu di kutub selatan,
tiba-tiba menjadi jodoh dan menikah, terus kembali ke tempat
masing-masing dan hanya bertemu sekali setahun. Waduh………….

 

Jadi berpikir lagi deh kata-katanya Ernest Hemmingway, LOVE IS CRAZY

馬富月
國立台灣大學

台北市

Ma Fu-Yue
National Taiwan University
Graduate Institute of Photonics & Optoelectronics
Taipei City
Taiwan

Email : riz_poetry@yahoo. com
Personal blog :  http://rizkiramadhani.blogspot. com

Love and Taipei Winter

December 24th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 25 Desember 2007

Taipei dingin sekali hari ini, ditambah hujan deras yang terus mengguyur seharian. Yah….seperti inilah musim dingin di Taipei. Musim dingin yang aneh memang, karena Taiwan sendiri secara geografis terletak di daerah subtropis dimana tidak turun salju. Tapi tetap saja dingin ini menusuk tulang. Kalau seperti ini saja sudah dingin sekali aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau aku ada di tengah salju betulan. Nampaknya aku memang harus bersyukur karena berada di Taiwan yang sedikit banyak mirip dengan Indonesia.

Ini malam Natal, tapi tetap biasa saja di Taipei. Dingin, malam sedikit lebih panjang daripada siang, dan tetap dengan kesibukan kampus dan pekerjaan. Aku ada kuliah siang nanti, dan Taiwan tidak libur saat Natal. Seperti halnya saat Idul Fitri dan Idul Adha yang juga tidak libur.

Sebenarnya aku ingin sekali berada di luar untuk menikmati pemandangan alam, sekaligus membaca buku di taman seperti kebiasaanku sebelum hari-hari sibuk disini. Cuman sepertinya itu tidak bisa dilakukan dengan suhu sedingin ini

Aku belum terlalu ngantuk, jadi selepas nonton film "Hitman", kusempatkan diri untuk mencek kembali arsip-arsip identitasku. Hah…..masih seperti dulu. Cuman kurang transkrip akademik S1-ku saja yang sudah hilang, tapi aku pun tidak terlalu memikirkannya.

Satu folder penuh identitas, dan sisa-sisa dari pertempuran masa lalu. Buang dan bakar yang tidak penting. Sepertinya aku memang kejam dengan masa laluku, tapi apa lagi yang bisa kulakukan demi ketenangan hidup pribadiku.

Pertempuran di semester 1 pun sudah hampir selesai. Dari seluruh kuliahku, aku mungkin cuman khawatir sama midterm Wireless Ad-Hoc Network yang sepertinya kacau balau, walaupun aku tahu seluruh mahasiswa di kelas rata-rata kacau di midterm yang sangat susah itu. Hmm…..tapi aku gak mau menyalahkan apapun lagi. Saat aku sudah menetapkan dimana pilihanku, melihat jalan lurus di depanku, dan membuang semua hal-hal yang mengganggu.

Seminggu lagi tahun baru ya. Tentu ada niat yang harus dideklarasikan nanti. Ah…Taipei masih saja dingin.

- Rizki -

Chitchat in the Mexican Restaurant

December 19th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 19 Desember 2007

Salah satu aktivitas yang kuikuti selama di NTU ini adalah kelas Tai-Chi. Salah satu beladiri unik khas Cina. Tapi jangan samakan Tai-Chi dengan kung fu biasa dengan pukulan dan tendangan seperti yang ada di film. Sebaliknya, Tai-Chi adalah jenis beladiri khas Cina dengan gerakan yang lembut, yang lebih mengutamakan gerakan defensif seperti tangkisan ketimbang gerakan ofensif seperti pukulan dan tendangan. And it is very fun, very very fun.

Laoshi (guru) -ku adalah lulusan Fakultas Hukum NTU. Dia kemudian melanjutkan kuliah S2 di New York jadi English-nya lumayan bagus. Sudah sekitar 3 atau 4 kali kita latihan, and guess what, hari Sabtu yang lalu dia ngajak kita makan-makan di restoran Mexico dekat kampus. Wow…….pertama kalinya deh gw makan piza mexico, nachos, tachos, dan enchiladas, walaupun gak sampai minum tequilla ha….ha…..

Anyway, pengalaman berharga juga. Kebetulan waktu itu laoshi datang bareng partnernya, orang Taiwan juga. Namun murid-murid yang datang kebetulan beda bangsa semua, ada aku, ada Tuvshin koordinator kelas yang berasal dari Mongolia, Pitch dari Thailand, dan satu kawan lagi dari Vietnam.

Karena dari latar belakang negara yang berbeda, jadinya diskusinya panjang kali lebar deh. Dari ngomongin susu kuda khas mongolia, kota-kota di vietnam, sampai bagaimana rakyat Thailand menyikapi jatuhnya Thaksin Sinawatra.

Sementara aku sendiri ?? Well…..luar biasa karena yang mereka tanyakan adalah mengenai tata cara hdiupku sebagai muslim. Nampaknya mungkin mereka sudah sadar waktu aku bilang kalau aku mau ikut makan-makan asal tidak makan babi dan minum alkohol.

Aku masih ingat bagaimana mereka menanyakan mengenai bagaimana kita harus mengerjakan sholat 5 waktu, apa tidak memberatkan, bagaimana dengan berhaji, dan lain sebagainya. Wuih…seru banget. Seru karena aku harus memberi penjelasan sebaik mungkin, seru melihat ketertarikan mereka, dan juga seru mengenal budaya bangsa lain di situ.

Saat makan malam kami, tidak ada orang Eropa, tidak ada orang Amerika, atau orang Australia. Murni perkumpulan orang Asia, sungguh unik juga bahwa benua ini punya budaya yang unik dan luar biasa.

Ahh….senang sekali bisa berkenalan dengan kawan-kawan dari berbagai negara. Itu suatu pengalaman berharga yang tidak akan kudapatkan di tempat lain.

Hmm…..akan makan-makan diman lagi yah nanti ?? He…he….

- Ma Fu Yue -

Idul Adha di Taipei

December 19th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 19 Desember 2007

Hari ini hari Idul Adha di Taipei dan seluruh Taiwan. Waktu Idul Adha di Taiwan memang selalu mengikuti waktu Idul Adha di Arab Saudi. Jadilah hari ini sholat Ied-nya.

Mungkin karena di Taiwan Islam tidak menjadi agama mayoritas, jadinya suasana lebaran tidak begitu terasa. Tapi di mesjid tetap begitu khusyuk dan rame dengan berbagai macam orang. Dari Afrika, Turki, Iran, Arab, Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, dan Taiwan sendiri. Dan seperti biasanya ada makanan kecil gratis sesudah sholat. Lumayanlah….he..he…

Sesudah sholat, lanjut lagi ke kehidupan biasa. Kuliah deh…..Mungkin Idul Adha saat ini paling berarti buat kawan-kawan yang akan lulus semester depan, mengingat ini akan menjadi lebaran terakhir mereka di Taiwan. Yah…menikmati waktu-waktu sempit antara liburan dan deadline tesis.

Kuliahku sendiri sih Alhamdulillah sudah mulai "ringan". Gak berat lagi setelah seluruh PR dari kuliah Wireless Network terkumpul semua. Sepertinya itulah kuliah terberat saat ini, mengingat itu kuliah yang membutuhkan coding dan programming, programmingnya pun dengan software yang belum pernah kukenal sebelumnya, kuliahnya juga gak ada kaitannya dengan tesisku, dan tambah parahnya lagi aku mengambil kuliah itu untuk iseng menggenapkan rencana semester 1 aja ha…ha….

Yah semua ada hikmahnya. Ini akan jadi satu-satunya ilmu baru yang mungkin tersimpan di memoriku. Entahlah kalau aku bisa memperdalam ini nanti. Yang jelas, Biophotonics tetap menjadi target utama.

Ahh….Taipei tetap dingin, dan aku rindu istriku. Apa dia marah karena aku telat balas smsnya ya ?

- Ma Fu Yue -

Thanx Mr. Smith

November 28th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 28 November 2007 (ataukah 29 November 2007)

Ada seminar di Barry Lam hall tadi, dari Professor Kenny Smith. Dia pengarang buku microelectronics yang sepertinya pernah kupakai bertahun-tahun dulu. Tajuknya mengenai "Pros & Cons of Graduate Study". Pro kontra program pascasarjana.

Awalnya saya berpikir akan menemui seminar penuh filosofi pendidikan ala Freire yang berapi-api. Tapi rupanya tidak. Beliau lebih banyak menyorot mengenai sistem pendidikan di bidang Teknik khususnya Teknik Elektro dan bagaimana para Insinyur mengubah dunia.

Aku sempat bertanya tadi, dan cukup "termakan" juga oleh jawaban dan penjelasannya. Terutama mengenai sistem pendidikan yang ideal. Yup, tidak ada sistem pendidikan yang benar-benar ideal. Terutama karena banyak sekali kesalahan yang dilakukan juga oleh obyek pendidikan yaitu kita, mahasiswa. Artinya kita juga harus mengintrospeksi diri mengenai kenapa hasil kita dan kuliah kita jeblok misalnya. Apakah memang kita sudah disiplin mengikuti sistem pendidikan yang memang semestinya snagat ketat.

Kembali kepadaku, kalau memang sedikit sekali yang aku dapatkan dari jenjang pendidikan sebelumnya, dan disini aku harus menyesuaikan diri dengan sistem research based yang jauh jauh jauh lebih lepas dari bimbingan dosen, siapa yang salah kalau begitu ? Ya, aku pun juga punya andil dalam kesalahan yang aku perbuat di masa lalu. Sayang memang seorang manusia tidak mau mengakui kesalahannya dan butuh sesuatu yang lain untuk disalahkan. Tapi aku memang gak mau mengingatnya. Aku malu. Malu pada diriku sendiri.

Tapi sudahlah, yang memang harus kulakukan adalah mengingat yang indah-indah itu walaupun sedikit untuk kugunakan dengan baik pada kehidupan dan juga beban pendidikan yang ada sekarang ini.

And, that is the hardest part….Hah…..kenapa masa lalu yang buruk selalu menjadi hantu dalam hidup kita ???????? Ah….melupakan bukanlah hal yang mudah bukan ?????

Anyway, thanx Mr. Smith for your speech. You give me new inspiration, new shock, new thing to think, and new hope for better person and better future.

Masih ada waktu untuk menyesuaikan diri dan memperbaiki diri.

- Ma Fu Yue -

Dalam keadaan santai

November 27th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 27 November 2007

16 PR dan 2 UTS sudah berlalu. Aku menghitungnya bukan karena bete, tapi lebih karena evaluasi terhadap perencanaan yang sedang kulakukan selama ini. 3 bulan sudah berlalu sejak aku memulai kuliah di Master Degree NTU. Sudah banyak yang berlalu, baik maupun buruk, walaupun tak ada salahnya untuk bermuhasabah.

Fiuhh…..jarang-jarang ketemu waktu kayak begini, apalagi kalau ingat dua kali combo PR seperti bulan lalu. Enjoy sih, setidaknya gak kayak laporan praktikum dulu yang pernah bikin aku traumatis dengan dunia kuliah. Ini cuman PR, gak ada mesin tik, gak ada LPJ, gak ada bantai-bantaian asisten, dan tanpa tekanan.

Lebih analitis, lebih fleksibel, dan bebas berkarya, walaupun tetap saja dengan kualitas PR ukuran master yg bikin puyeng.

Hmm…….di lab-ku ada 6 orang termasuk aku, ada satu mahasiswa Ph. D. dan 5 mahasiswa master. Aku paling kagum sama salah satu mahasiswa master diantaranya. Ashi, walaupun baru master publikasinya sudah banyak dan dia sudah mengisi di berbagai seminar photonics. Sayangnya dia gak berminat lanjut ke master, dan memilih kerja di industri nanti. Good luck.

Tapi aku kagum bagaimana dia bisa mengembangkan diri dan ilmu di jenjang master dengan kualitas publikasi yang lebih tinggi. Aku masih berpendapat bahwa sekolah dan kuliah juga belum tentu menjamin masa depan maupun tempat kita mengais ilmu dan pendidikan. Masih banyak ilmu lainnya.

Tidak semua ilmuwan dan orang berhasil adalah orang yang berpendidikan tinggi semua. Bill Gates DO dari Harvard, Thomas Alva Edison sekolah di rumah, Nikola Tesla juga kerjanya cuman masuk dan DO dari kampus tapi mereka sukses. Kadang terbersit juga ide gilaku untuk selesai di level master, gak perlu Ph. D, dan tinggal meneruskan riset-riset aja. Lagian beda Ph. D dengan riset biasa kan kalau Ph. D. dapat sertifikat. Itu aja, ujung-ujungnya meneliti juga. Lumayan kan, gelar cuman master tapi bisa tunjuk-tunjuk Professor, ha…ha…ha…..

Sudahlah gak usah pikirkan itu dulu. Aku belum memikirkan Ph. D karena aku masih ingin memperdalam topik spesifik yg aku dapat di master, lagipula aku masih harus menemani istriku yang mungkin akan kutinggal selama master, dan juga aku gak mau kena Ph. D alias permanent head damage ha…ha…..

Aku lanjut kesini dulu karena aku merasa jadi gentong kosong dengan gelar sarjana, dengan sedikit ilmu saja . Dan aku mulai menemukan bentuk yang aku inginkan. Jika bentuk itu sudah kutemukan disini, aku hanya perlu konsisten saja. Hmm…..siapa bilang kuliah gak ada idealismenya ???

- Ma Fu Yue -