Archive for September, 2007

12 kredit

Friday, September 28th, 2007

Taipei, 29 September 2007 (tengah malam)

Taipei masih seperti biasa. Panas di siang hari, biarpun di tengah Ramadhan sekarang.

Kuliah udah mulai berat. Dan disinilah aku akan memulai proses yang terlihat sederhana tetapi sebenarnya sangat menentukan dalam kuliah. Minimal menentukan lancar tidaknya kuliah kita. Yakni proses pemilihan mata kuliah (course selection).

Terlihat sederhana, karena mungkin hanya pilih - pilih mata kuliah, pilih yang diinginkan, drop yang tidak diinginkan, terus jalanin. Tapi sebenarnya tidak. Jumlah kredit, jenis mata kuliah yang diambil, dan keterkaitan dengan minat kita akan sangat menentukan sekali. Aku ingat waktu di UI dulu, IP-ku tinggi sekali di semester 1. Maka mulai semester 3 aku mulai nekad ambil 24 sks, jumlah kredit maksimal yang boleh diambil di kampus dan sejak saat itu sampai semester 9 aku mesti ngambil 24 sks. Karena rupanya beban kredit itu tidak seimbang dengan aktivitasku di kemahasiswaan. Dan aku harus terus mengambil banyak sks agar menjaga nilai - nilai yang tidak lulus untuk diulang terus sampai lulus.

Jadilah puyeng pikir kuliah. Bukan prestasi yang membanggakan sih melihat di transkrip (yang udah hilang) bahwa aku pernah ngulang rangkaian listrik 4 kali, statistik 3 kali, walaupun kedua - duanya lulus, teknik telekomunikasi 3 kali yang akhirnya tetap aja C, aduhhhh….gak deh. Gw aja gak mau ingat - ingat. Soalnya pikiran perfeksionisku mengatakan itu tanda aku sama sekali gak fokus dan gak benar mengatur studiku.

Belum lagi keterkaitan kuliah dengan tesis yang mau kita buat. Gak lucu kan ambil kuliah komputer tapi tesis elektronika ?? (kayaknya gw kenal baik siapa yang melakukan itu tuh…)

Hm…….aku tetap minat di biomedik, tapi mata kuliah yang relevan dengan tesis bidang ini rupanya cuman 2 di semester ini. Yah, apa boleh buat. Jadi banyak pilihan deh. Aku mau ambil 12 sks dulu, karena untuk jadi master total 24 kredit yang harus ditempuh mahasiswa diluar seminar dan tesis. Katanya sih agak kebanyakan, karena kawan2ku aja ngambil max. 9. Yang dari Chili malah bilang cuman mau ambil 6 kredit.

Tapi ada anak MBA yang kuliahnya total 51 sks dan ngambil 15 kredit sekarang. Kata Vera temanku di Melbourne dia juga ambil 4 subject setara 12 sks disana. Ah…normal-normal aja. Lagian aku sudah coba ukur kemampuanku.

Hmm….ah sudahlah. Lagian kerjaku banyakan tidur dalam 5 hari ini. Gak prodiktif !!!! Dan aku anti inproduktivitas. So maksimalkan potensi. Kayaknya asyik juga ikut les tambahan musik Cina nanti. OK. 12 kredit untuk semester 1. Deal !!!! Let’s see how the game will be over.

- Ma Fu Yue -
- Taipei City -

Badai Pasifik

Wednesday, September 26th, 2007

Taipei, 26 September 2007

Ini bukan karena aku sedang bernostalgia dengan syair lagu "Badai Selatannya" Soe Hok Gie, tetapi memang sedang hujan deras sekarang di Taipei. Terpaksa, kami buka puasa di asrama saja. Minggu lalu lebih parah, karena katanya ada taifun yang menyerang Taipei. Untungnya aku sedang ada di Indonesia.

Fiuh….hari - hari mulai menyenangkan di Taipei. Satu per satu urusanku mulai selesai. Laptop, sepeda, cap, kartu telepon, anything else. ARC card pun dah kuurus tadi (thanx to my lovely buddy Rocky). Tinggal tunggu satu minggu lagi sampai kartunya jadi dan aku bisa buka rekening di post office NTU dan dapat beasiswa deh he…he…

Senin dan Selasa kemarin libur kuliah di sini. Soalnya ada moon festival. Saat dimana orang - orang berpesta dibawah bulan purnama sambil menikmati hidangan kue - kue khas Taipei. Memang bulan purnama kemarin, dan kebetulan kawan volunteerku cukup baik untuk membawakan aku oleh - oleh sekotak penuh kue bulan purnama khas Taiwan (thanx a lot David). Dan karena libur, aku juga diuntungkan kuliah yang belum mulai sama sekali. So, aku gak begitu ketinggalan banyak pas mengurus resident visa kemarin (bahkan ada yang baru mulai).

Aku sempat jalan -jalan keliling kampus NTU kemarin. Kalau dilihat sebenarnya NTU lebih kecil daripada UI. Jumlah fakultas (college) disini ada 11, sementaraq diUI ada 12. Dan kampus UI pun sebenarnya jauh lebih luas daripada NTU. Hanya saja disini bangunannya cukup padat persis kayak UGM, tapi luas tanahnya lebih kecil dari UI.

Tapi jangan hanya melihat fisiknya saja, inilah kampus terbaik di Taiwan, dan salah satu yang terbaik di dunia. National Taiwan University berada pada peringkat tebraik kedua di Asia versi Webometrics setelah Tokyo University dan berada pada peringkat 108 dunia versi Times Higher Education Supplement. NTU juga punya satu alumnus yang pernah meraih nobel kimia tahun 1986 dan satu - satunya orang Taiwan yang pernah dapat hadiah Nobel. Itu sebabnya ranking universitas ini . Hmm…senang sekali berada di pulau indah di tengah samudra Pasifik ini. Ah semoga aku yang dapat giliran Nobel berikutnya he…he….

Hari ini akhirnya aku kuliah untuk pertama kalinya, Wide Gap Semiconductor Technologies. Professornya cukup baik. Kupikir aku akan menikmati kuliah disini. OK, bukankah itu tujuanku datang kesini.

Ah…satu - satunya yang bikin gak tenang adalah istriku yang lagi sakit di Depok sana. Hu…hu…hu…Cepat sembuh kekasihku.

Muhammad Rizki Ramadhani, ST

Master Degree Program for R & D Industrial Technology

College of Electrical Engineering & Computer Science

National Taiwan University

Taipei

Operation Wrap - Scrap

Friday, September 21st, 2007

Jakarta, 20 September 2007

2 hari ini kerjaku adalah jualan barang - barang bekas. 2 printer rusak, 1 laptop rusak, & 2 monitor. Yang paling bikin bete adalah mengangkut barang - barang bekas tersebut yang beratnya gak ketulungan. Tapi pas dijual harga yangdidapatkan sangat jauh dari ekspektasi. Harusnya aku mengerti sih, namanya juga barang bekas. Tidak dapat keuntungan yang signifikan sih, tapi lumayan lah buat dapat duit "recehan". Aku harus ambil baiknya. Lagipula akupun tidak suka membiarkan barang elektronik tertumpuk lama. Jadi sampah dan malah makin tambah rusak aja. Tapi kayaknya aku gak berminat untuk bisnis barang bekas lagi.

Ah….visa resident untuk ke Taipei dah jadi.Dan aku pun dah beli laptop baru (walaupun tetap nyesel kenapa gak beli CPU + monitor flat aja). Now, it’s time to go back to Taiwan. Saatnya bertempur untuk tidak mundur lagi.

- Sorong -

Towards a beautiful mind

Saturday, September 15th, 2007

Taipei, 16 September 2007

Jujur aku tidak menyukai masa - masa kuliahku di UI saat menempuh jenjang S1. Mungkin kalian yang pernah membaca buletin board atau blog-ku yang dulu sudah tahu tentang hal ini. Dan aku memang tidak pernah menarik pendapatku tentang riwayat hidupku yang satu ini. Aku tidak menikmati masa - masaku kuliah di S1 UI, and I hate it most !!!!!! Berkali - kali sudah kukutuk babakan hidupku sendiri disini. Ah….masa - masa S1. Kuliah 11 semester yang tidak fokus, dimana banyak sekali kuliah yang kuulang terus menerus bukan karena aku bodoh atau tidak bisa, tetapi karena malas, gagal melakukan perencanaan, dan akhirnya jadi historical record yang sama sekali tidak bisa dibanggakan secara akademis. Walaupun IP akhirku tergolong very good.

Belum lagi masa - masa melelahkan di lembaga kemahasiswaan, kurang perencanaan juga, dan kelelahan psikologis saat aku tahu terlalu banyak orang yang mengaku aktivis tetapi rupanya pragmatis juga. Bullshit !!!

Ah…S1. Penuh trial & error. Terlalu banyak trial, terlalu banyak error, dan hanya sedikit yang jadi benar. Waktu transkrip akademikku hilang di kedutaan Taiwan, sempat aku sedih dan menyesal karena transkrip hanya dicetak sekali seumur hidup. Tetapi sekarang aku sadari, mungkin aku kualat karena mengutuk masa laluku di S1 itu. Tapi ambil baiknyalah, setidaknya aku tidak perlu mengingat lagi kuliahku yang awut - awutan seperti ngambil kuliah rangkaian listrik 4 kali baru lulus (aaarghhhh jangan diingat - ingat lagi). Just forget it.

Aku sih ingin sekali agar tidak mengulang kesalahan itu lagi (cukup sekali aja deh kuliah S1). The question is, bagaimana memperbaikinya di jenjang pendidikan berikutnya ? Dalam hal ini adalah master degree yang sedang kutempuh di National Taiwan University. Jujur terlalu banyak problem juga pada masa - masa awal di Taipei ini walaupun belum kuliah. Secara administrasi, walaupun aku dan beberapa teman disini berstatus beasiswa penuh selama 2 tahun, tapi beasiswa kami belum dikucurkan di saat kami tiba disini. Mesti menunggu proses administratif ini itu yang memakan waku lama. Sehingga beberapa biaya awal untuk kuliah harus kami talang sendiri seperti untuk pemeriksaan kesehatan. Jadi buat yang nanti mau kuliah di luar negeri, hati - hati aja di awal kuliah. Siapkan diri dengan baik termasuk finansial biar gak shock.

Yang kedua adalah aku punya masalah dengan sebuah institusi sialan yang bernama imigrasi. Perjalanan ke Taiwan adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri. Walaupun itu menjadi milestone dalam hidupku, tetapi rupanya terlalu banyak birokrasi kalau mau keluar negeri. Dari negeri yang dituju kita harus ngurus visa - lah, visanya juga ada berbagai tipe - lah, terus sampai disini harus melaporlah, bikin ini itu lah, ribet banget. Di Indonesia sendiri kalau beli tiket harus bayar pajak ini itu lah, over bagasi biayanya gila - gilaan lah, dan ada biaya fiskal Rp 1 juta yang wajib dibayar tapi gak jelas kemana duitnya. Hanya Indonesia sendiri satu - satunya negara yang kalau mau keluar negeri harus “dipajak” fiskal Rp 1 jt. Di negara ASEAN yang lain tidak ada yang seperti itu, termasuk juga di Taiwan. Demi Allah kalau aku jadi presiden biaya fiskal itu yang pertama kali aku hapuskan. Memberatkan, gak jelas juga kemana tuh alokasinya. Padahal besarnya lumayan. Rp 1 juta dah dibikin kayak duit receh aja.

Sekarang aku terancam harus balik ke Indonesia karena urusan visa. Duh….pertama kali keluar negeri tapi dah repot banget yah……Aku takut psikologisku terhadap keadaan ini bisa jadi mengarah ke hal yang sama, shock, trauma, dan tidak mau mengulanginya lagi. Padahal mungkin banyak perjalanan keluar negeri lainnya yang akan kulakukan. Ini memang jadi pelajaran sih, tapi ongkos pelajarannya cukup mahal. Tapi kan aku tidak tahu sebelumnya. Ya Allah….jangan hukum aku karena ketidaktahuanku.

Awal yang sedikit traumatis, but let’s forget it too. Bakar bersama kenangan S1 - ku. Aku tidak ingin mengulang itu kembali. Ada 24 kredit ditambah penelitian satu tahun menungguku untuk menjadi master of science bidang engineering. Dan aku ingin melakukannya dengan sangat baik, maksimalnya sempurna.

Ah…kalau boleh bertawasul, semoga segala sakit hati kehidupan dan awal perjalanan ke luar negeri yang buruk ini Allah tukar dengan kemudahan dan prestasi gemilang di master degree. Dan kalau bisa sampai doktor. Aku ingin bisa jadi John Forbes Nash kedua, menjalani hidup yang benar - benar keras sampai meraih hadiah Nobel. Amin ya Allah. Tidak apa - apalah semua ujian ini. Kutanam dukanya di pinggir jalan kota Taipei dan aku gak mau ingat lagi karena akan menambah pikiranku saja. Tetapi mohon sekali lagi tukar itu ya Allah dengan kemudahan saat kuliah di negeri orang ini. Biar sakitnya di awal, dan biarkan indah di akhirnya. Sehingga kelak aku tak perlu bersedih karena transkrip akademikku hilang untuk selamanya. Dan kelak di saat tua nanti aku akan memandang ijazah S1 - ku, satu - satunya bukti konkret yang tersisa dari kehidupanku di S1 dulu yang masih ada dan tidak hilang atau sengaja kubuang, dan saat memandang ijazah itu aku akan tersenyum kecil dan berkata “Oh…pernah ya aku lulus S1 ????”. Hmm…..semoga bukan impian dan doa sinis.

Kuliah dah mepet, dan aku harus segera balik ke Jakarta untuk bikin visa resident. Sekali lagi ya Allah, jangan hukum aku karena ketidak tahuanku. Oke, semua duka sudah dilupaan. Be spritful. 24 credit and a research is waiting. Let the bad past be burned in Ramadhan. Indonesian beautiful mind, is on the move.

- Muhammad Rizki Ramadhani, c M. Sc. -

Indahnya Ramadhan di Taipei

Saturday, September 15th, 2007

Taipei, 16 September 2007

Ini mungkin kali pertama aku menjalankan ibadah Ramadhan di luar negeri, di negeri orang. Unik memang. Dibilang biasa tidak, dibilang luar biasa juga gak terlalu. Biasa karena waktu di Taiwan sebenarnya sama dengan waktu di Indonesia bagian tengah. Jadwal sholatnya pun tidak jauh berbeda. Tidak ada kendala musim seperti halnya yang terjadi bagi mereka yang melaksanakan ibadah puasa di Eropa. Waktu tenggelam dan terbitnya matahari di Taipei pun sama seperti di Indonesia. Musimnya pun sama. Ada panas, ada hujan (dan benar - benar luar biasa melihat hujan pertama kali di Taipei), dan tidak ada salju walaupun katanya musim dinginnya juga sangat dingin (tapi aku belum ngerasain sih….)

Tapi yang cukup unik adalah kehidupan muslim disini. Jangan samakan disini dengan Jakarta dimana kita bisa mendengar azan setiap shalat tiba. Tidak ada azan yang mengingatkan kita, sehingga kita harus menyesuaikan diri dengan hal itu. Tapi tetap ada nadi kehidupan Islam disini. Total sih katanya ada 6 mesjid yang tersebar di seluruh negeri Taiwan, tapi yang jelas 2 di antaranya ada di kota Taipei. Masjid kecil Taipei di dekat Taipower building, dan masjid agung Taipei yang letaknya di dekat taman kota Daan, dekat kampus NTU.

Unik sekali melihat ada juga orang Taiwan asli yang beragama Islam. Dengan bacaan sholat dan azan menggunakan logat mereka. Saat buka puasa seperti sekarang ini mungkin saat yang paling menarik. Kita biasa berbuka puasa di masjid agung Taipei, dan saat berbuka tiba kalian akan melihat berkumpulnya muslim yang ada di Taipei di sana. Dari berbagai etnis. Afrika, Pakistan, India, Bangladesh, Kazakhstan, Indonesia, dan tak lupa orang Taiwan asli. Berbaur menjadi satu. Bagaikan melihat perwakilan muslim berbagai benua dan berbagai negara di Taipei. Jumlahnya cukup banyak juga, tadi saja mencapai 4 atau 5 shaf saat Tarawih. Kemarin aku sholat berdampingan dengan muslim Taiwan dan seorang Afrika. Hmm……pengalaman yang luar biasa. Sesudah berbuka, kami mahasiswa Indonesia ikut membantu keluarga penjaga mesjid yang asli Taiwan untuk membersihkan peralatan makan. Capek sih…tapi lumayan dapat pampasan perang makanan buat sahur. Yah setidaknya kita dijamin gak kelaparan dan tetap hematlah selama Ramadhan he..he….

Unik sekali melihat suasana keragaman etnis muslim saat berbuka itu, benar kiranya kebersamaan dalam Islam. Aku sih tidak mau pake kata ukhuwah, karena pengalamanku di kampus UI kata itu dipratekkan secara aneh dalam kehidupan nyata. Dan aku pun masih punya sedikit masalah dengan beberapa orang di Indonesia yang mengaku aktivis Islam, dan aku juga gak punya niat sama sekali memperbaiki hubungan itu..Biarin aja ah…Sudah lupakan saja, lagian aku juga bermil - mil jauhnya dari sini. Ini jadi dunia baru bagiku, dan dalam dunia baru ini aku senang melihat muslim dari berbagai suku bangsa bisa bercampur baur, berbuka bersama, makan dari satu meja tanpa membedakan warna kulit dan asal suku bangsa di antara mereka.

Islam memang bahasa universal dimana - mana.

- Ma Fu Yue -

Ujian……

Wednesday, September 12th, 2007

Tuhan…..
Habis sudah semuanya
Dan sekarang di awal bulan sucimu

Hamba merenung
Hamba menangis
Hamba berkeluh kesah

Izinkan hamba dalam dunia hamba sendiri
Dalam ruang hampa
Kosong…..

Tetapi benarkah itu kosong
Ada nikmatmu di dalamnya
Nikmat yang selalu kunafikan
Ada cobaan derita mengisinya
Dan kupikir cobaan itulah seluruh duniaku

Tuhan……
Apa jadinya aku
Saat rasanya beban tak mampu lagi kutahan
Dan mata hati terlalu nista untuk terbuka
Aku gembel
Aku gelandangan
Aku tak punya apa - apa
Dan apakah ada pintu terbuka untukku di atas sana

Aku tak kuat, sungguh tak kuat
Andai aku adalah raja waktu di dunia
Tapi tidak, tidak bisa kubeli sedetik pun
Dan pundi - pundi tak jua mudah didapat
Dari rahim bumimu dan luas langitmu

Wahai penguasa takdir….
Sedang dimana kiranya aku berlakon
Dalam bab apa aku menjad pemain utama di buku nasibmu ???

Ah……..meratap tak boleh
Tapi menjalaninya pun berat
Kadang kurasa titik nadhirku sudah sampai
Kadang kurasa tinggal napaskulah milikku terakhir yang belum kukorbankan
Tapi hanya satu pikiran jernih dalam otakku yang sudah penuh dengan keluh kesah

Hidup terlalu berharga untuk disia - siakan

Kumohon beri akhir yang indah di ujungnya
Atau ambil saja napasku, dan beri akhir yang indah di ujungnya

- Memory of Taipei, 12 September 2007 -
- Ma Fu Yue -

NB : Cina dan Arab adalah dua bangsa dengan sastra paling indah di dunia.

Taiwan bukanlah China…!!!!!!!

Tuesday, September 11th, 2007

Taipei, 11 September 2007

Aku dan kawan-kawanku melakukan health examination dan medical check up tadi pagi. Kebetulan ini adalah salah satu syarat pendaftaran di NTU. Sempat juga jalan - jalan di pusat kota Taipei. Melihat apa Peace Park 2/28 (hmm….taman yang indah), Taipei Main Station yang jadi pusat bank dan alat elektronik Taipei, dan bangunan lainnya.

Orang yang melihat Taipei pasti bingung karena kota ini, dan juga seluruh Taiwan, lebih bernuansa barat ketimbang China. Ada kawan volunteer yang disediakan oleh NTU, dan aku baru tahu beberapa hal terkait konflik China dan Taiwan. Tidak pernah ada penerbangan langsung antara Taiwan dan China. Jika kita ingin menuju ke China dari Taiwan, maka harus transit dulu di Hong Kong baru memasuki China daratan. Dan orang China pun tidak diperbolehkan memasuki Taiwan, entahlah kalau sebaliknya.

Taiwan juga sedang giat menggalang dukungan. Bendera - bendera negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan terpasang di jalanan utama tadi. Dan di setiap kantor pemerintah selalu terpasang spanduk "UN for Taiwan" sebagai bagian dari upaya pemerintah Taiwan untuk masuk ke PBB.

Hmmm…..it’s clear. Taiwan is not China.

Hmm….sayang sih. Soalnya aku dah berencana untuk cari kerja sambilan dengan menjadi sukarelawan di Olimpiade Beijing tahun depan. Ada 4 "pusat dunia" yang akan jadi tempat penyelenggaraan event olahraga besar tahun  2008 nanti. Olimpiade akan diadakan di Beijing. Di Manchester, Inggris akan ada final piala UEFA. Sedangkan final  liga Champion akan diadakan di Luzhniki Moskow, Rusia. Dan piala Eropa akan diperebutkan di puncak alpen, Swiss dan Austria.

Fiuh…kupikir aku akan cari kerja sambilan di Taipei aja dan mencari berita tentang event olahraga itu lewat internet aja. He….he….

Sedang mendung di langit Taipei. Indahnya melihat awan mendung di pulau Formosa. Nuansa baru. Walau tak seindah wajah kekasihku.

- Ma Fu Yue, alias M. Rizki Ramadhani -

La Formosa Noche

Monday, September 10th, 2007

Taipei, 10 September 2007

Formosa berarti indah atau cantik dalam bahasa Portugal. Inilah julukan yang diberikan oleh para pelaut Portugal yang pertama kali mendarat di pulau Taiwan. Julukan lengkapnya adalah Isla Formosa, beautiful island, pulau yang indah. Sedangkan noche adalah malam dalam bahasa Spanyol. Jadi walaupun berasal dari 2 bahasa berbeda, aku menggabungkannya ke dalam satu kalimat menjadi La Formosa Noche, malam yang indah.

Indah karena malam ini adalah malam perkenalan dan orientasi bagi mahasiswa internasional di NTU. Jarang - jarang melihat orang dari berbagai negara tumpek blek di satu tempat bersama - sama. Senang sekali bisa berkenalan dengan orang dari berbagai negara.

Senang karena ini untuk pertama kalinya kami bertiga, 3 orang mahasiswa Indonesia di R & D bisa berkumpul bareng - bareng. Membawa sedikit suasana kampung halaman ke Taipei.

Senang juga karena dalam perjamuan tadi suasana restoran NASSAS di pinggir kampus utama NTU benar - benar sangat indah. Berada tepat di pinggir jalan besar, tapi disini tidak seperti jika kau makan malam di Jakarta, tidak ada kemacetan lalu lintas yang menghiasi jalanan. Rapih. Bersih. Dan zona hijau di dekat sana serta lampu - lampu pertokoan menambah romantis suasananya. Dan aku pun senang karena akhirnya aku bisa mendapatkan surat tanda asli bahwa aku diterima di NTU yang tidak aku dapatkan di Indonesia. Tapi hatiku masih saja sepi, karena kekasihku tidak di sampingku.

Anyway, aku berkenalan dengan seorang mahasiswa asing asal Turki tadi. Senang rasanya. Kebetulan aku mendaftar untuk beasiswa ke Turki juga dulu sebelum akhirnya diterima di Taipei. Dia senang sekali mendengar bahwa begitu banyak kerjasama antara pemerintah Turki dan pemerintah Indonesia. Kebetulan perjalanan kami juga mirip. Perjalanan ke Taiwan adalah perjalanan pertama bagi kami berdua ke luar negara masing - masing. Dia juga diterima di Teknik Elektro walaupun beda penjurusan denganku. Dan diapun seorang muslim, walaupun entah dia sholat atau tidak. Rata - rata mahasiswa asing disini sudah tinggal selama 1 - 2 tahun sebagai persiapan. Wow…benar - benar diseriusin yah…..Beda dengan kita dari Indonesia yang baru 2 - 3 hari nyampe, he…he….benar - benar modal nekat. Ah…beautiful night.

Aduh….mengapa istriku belum juga menghubungiku sampai sekarang yah ??? Sayang, aku rindu padamu. Yang terbawa padaku hanya manset-mu yang masih harum dengan satu harapan bahwa aku bisa bertemu pemiliknya kembali. Aku belum bisa meneleponmu karena kesulitan telekomunikasi disini. Tolong bukalah blog ini segera……..Hatiku selalu tertambat di rangkaian pulau - pulau indah Indonesia.

- Muhammad Rizki Ramadhani -

The Taiwan Dream

Sunday, September 9th, 2007

Taipei, 9 September 2007

Apa kabar blog ?? Lama tak berjumpa lagi, setelah kuhancurkan seluruh tulisan - tulisan lamaku. Aku menghapusnya karena muak dengan tulisan tersebut, dan aku juga tak mau mengingat - ingatnya lagi.

Kita berjumpa disini, saat aku genapkan satu mimpi besarku kembali, saat aku akhirnya untuk pertama kalinya berangkat ke luar negeri.

Dan aku tak pernah menyangka bahwa negeri yang kutuju di luar Indonesia untuk pertama kalinya adalah ……Taiwan. Fiuhh…perjalanan yang melelahkan sekali kemarin. Terbang selama kurang lebih 9 jam dengan China Airlines dan sekali transit di Hong Kong.

Hmm….unik. Karena aku tak pernah membayangkan perjalanan ke sini sebelumnya. Unik karena negara ini pun cukup unik.

Taiwan berada di persimpangan pengakuan dunia. Karena Taiwan berada di bawah bayang - bayang Cina yang mengklaim Taiwan sebagai salah satu bagian dari negeri itu. Tapi Taiwan sendiri tetap berdiri secara de facto dan de yure sebagai satu negara. Hal ini disebabkan karena faktor sejarah dan politis antara Cina dan Taiwan. Cina saat ini dikuasai kubu komunis (Kung Chang Tang) yang mengusir kubu nasionalis (Kuo Min Tang) pada perang tahun 1949. Kubu nasionalis tersebut akhirnya pindah ke Taiwan dan mendirikan Republic of China alias Cina Taiwan seperti yang ada sekarang. Perbedaan aliran politik inilah yang menyebabkan Taiwan terpisah dari Cina.

Walaupun demikian Taiwan sendiri adalah negara yang luar biasa. Luasnya hanya sekitar 14 mil persegi, 3 kali lebih kecil dari pulau Jawa yang memiliki luas 50 meter persegi. Tetapi dengan ukuran yang kecil itu, Taiwan termasuk dalam Empat Naga Baru Asia (Asian Four Little Dragons). Sebuah julukan yang diberikan Bank Dunia karena pertumbuhan ekonominya yang cukup cepat dan tingkat ekonominya yang tinggi. Selain Taiwan, naga - naga lainnya adalah Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan.

Taipei sendiri sebagai ibukota Taiwan juga cukup bersih dan rapih. Sistem transportasinya tidak berantakan seperti di Jakarta. Dan disini ruang - ruang hijau dijaga dengan baik bahkan ada taman kota yang cukup luas di pusat kota.

NTU alias National Taiwan University juga kampus yang cukup besar dan modern. Berdiri sejak 1928 (saat sumpah pemuda dikumandangkan di Indonesia), NTU merupakan kampus terbaik di seluruh Taiwan. Berada di ranking 108 dunia versi THES London, dan punya satu lulusan yang pernah meraih nobel kimia tahun 1986. Dan hanya NTU-lah yang punya lulusan peraih nobel di seluruh Taiwan dan di seluruh 4 naga kecil Asia. Hmm…membanggakan bukan. Senang bisa menjadi mahasiswa di sini, walaupun dengan segala kelebihan dan kekuranganku (terutama kekurangan duit kali ye…he…he…he..).

Well, Insya Allah 2 tahun dari sekarang aku harus menyebut kota ini sebagai rumah. Dan aku harus kembali dari sini dengan hasil yang terbaik. Satu - satunya yang menggangguku disini adalah aku rindu keluargaku, dan terutama bidadariku di Depok sana yang berulang tahun hari ini (maaf suamimu belum bisa memberi hadiah hiks..hiks…). Alia, I just want to know that I miss you from the first time I arrive in this city, in this country, in this island. I love you.

Oke, buat geng Singapura (Matnur dan Fauzan Zidni) serta geng Korea Selatan (Chairul dan Boy), ayo pelajari budaya dan juga sejarah negeri tempat kalian berada. Dan pelajari bagaimana mereka bisa lahir menjadi naga baru asia. Tugas kita untuk membuat Indonesia menjadi naga kelima. Biar jadi Power Ranger Asia ha…ha….

Oke, salam hangat buat kalian. Dan salam cinta khusus untuk istriku Alia Prima Dewi. Greetings from Taipei. Ya, Allah lindungilah aku dan lancarkanlah urusanku disini. Amien.

- Muhammad Rizki Ramadhani -