Taipei, 16 September 2007
Jujur aku tidak menyukai masa - masa kuliahku di UI saat menempuh jenjang S1. Mungkin kalian yang pernah membaca buletin board atau blog-ku yang dulu sudah tahu tentang hal ini. Dan aku memang tidak pernah menarik pendapatku tentang riwayat hidupku yang satu ini. Aku tidak menikmati masa - masaku kuliah di S1 UI, and I hate it most !!!!!! Berkali - kali sudah kukutuk babakan hidupku sendiri disini. Ah….masa - masa S1. Kuliah 11 semester yang tidak fokus, dimana banyak sekali kuliah yang kuulang terus menerus bukan karena aku bodoh atau tidak bisa, tetapi karena malas, gagal melakukan perencanaan, dan akhirnya jadi historical record yang sama sekali tidak bisa dibanggakan secara akademis. Walaupun IP akhirku tergolong very good.
Belum lagi masa - masa melelahkan di lembaga kemahasiswaan, kurang perencanaan juga, dan kelelahan psikologis saat aku tahu terlalu banyak orang yang mengaku aktivis tetapi rupanya pragmatis juga. Bullshit !!!
Ah…S1. Penuh trial & error. Terlalu banyak trial, terlalu banyak error, dan hanya sedikit yang jadi benar. Waktu transkrip akademikku hilang di kedutaan Taiwan, sempat aku sedih dan menyesal karena transkrip hanya dicetak sekali seumur hidup. Tetapi sekarang aku sadari, mungkin aku kualat karena mengutuk masa laluku di S1 itu. Tapi ambil baiknyalah, setidaknya aku tidak perlu mengingat lagi kuliahku yang awut - awutan seperti ngambil kuliah rangkaian listrik 4 kali baru lulus (aaarghhhh jangan diingat - ingat lagi). Just forget it.
Aku sih ingin sekali agar tidak mengulang kesalahan itu lagi (cukup sekali aja deh kuliah S1). The question is, bagaimana memperbaikinya di jenjang pendidikan berikutnya ? Dalam hal ini adalah master degree yang sedang kutempuh di National Taiwan University. Jujur terlalu banyak problem juga pada masa - masa awal di Taipei ini walaupun belum kuliah. Secara administrasi, walaupun aku dan beberapa teman disini berstatus beasiswa penuh selama 2 tahun, tapi beasiswa kami belum dikucurkan di saat kami tiba disini. Mesti menunggu proses administratif ini itu yang memakan waku lama. Sehingga beberapa biaya awal untuk kuliah harus kami talang sendiri seperti untuk pemeriksaan kesehatan. Jadi buat yang nanti mau kuliah di luar negeri, hati - hati aja di awal kuliah. Siapkan diri dengan baik termasuk finansial biar gak shock.
Yang kedua adalah aku punya masalah dengan sebuah institusi sialan yang bernama imigrasi. Perjalanan ke Taiwan adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri. Walaupun itu menjadi milestone dalam hidupku, tetapi rupanya terlalu banyak birokrasi kalau mau keluar negeri. Dari negeri yang dituju kita harus ngurus visa - lah, visanya juga ada berbagai tipe - lah, terus sampai disini harus melaporlah, bikin ini itu lah, ribet banget. Di Indonesia sendiri kalau beli tiket harus bayar pajak ini itu lah, over bagasi biayanya gila - gilaan lah, dan ada biaya fiskal Rp 1 juta yang wajib dibayar tapi gak jelas kemana duitnya. Hanya Indonesia sendiri satu - satunya negara yang kalau mau keluar negeri harus “dipajak” fiskal Rp 1 jt. Di negara ASEAN yang lain tidak ada yang seperti itu, termasuk juga di Taiwan. Demi Allah kalau aku jadi presiden biaya fiskal itu yang pertama kali aku hapuskan. Memberatkan, gak jelas juga kemana tuh alokasinya. Padahal besarnya lumayan. Rp 1 juta dah dibikin kayak duit receh aja.
Sekarang aku terancam harus balik ke Indonesia karena urusan visa. Duh….pertama kali keluar negeri tapi dah repot banget yah……Aku takut psikologisku terhadap keadaan ini bisa jadi mengarah ke hal yang sama, shock, trauma, dan tidak mau mengulanginya lagi. Padahal mungkin banyak perjalanan keluar negeri lainnya yang akan kulakukan. Ini memang jadi pelajaran sih, tapi ongkos pelajarannya cukup mahal. Tapi kan aku tidak tahu sebelumnya. Ya Allah….jangan hukum aku karena ketidaktahuanku.
Awal yang sedikit traumatis, but let’s forget it too. Bakar bersama kenangan S1 - ku. Aku tidak ingin mengulang itu kembali. Ada 24 kredit ditambah penelitian satu tahun menungguku untuk menjadi master of science bidang engineering. Dan aku ingin melakukannya dengan sangat baik, maksimalnya sempurna.
Ah…kalau boleh bertawasul, semoga segala sakit hati kehidupan dan awal perjalanan ke luar negeri yang buruk ini Allah tukar dengan kemudahan dan prestasi gemilang di master degree. Dan kalau bisa sampai doktor. Aku ingin bisa jadi John Forbes Nash kedua, menjalani hidup yang benar - benar keras sampai meraih hadiah Nobel. Amin ya Allah. Tidak apa - apalah semua ujian ini. Kutanam dukanya di pinggir jalan kota Taipei dan aku gak mau ingat lagi karena akan menambah pikiranku saja. Tetapi mohon sekali lagi tukar itu ya Allah dengan kemudahan saat kuliah di negeri orang ini. Biar sakitnya di awal, dan biarkan indah di akhirnya. Sehingga kelak aku tak perlu bersedih karena transkrip akademikku hilang untuk selamanya. Dan kelak di saat tua nanti aku akan memandang ijazah S1 - ku, satu - satunya bukti konkret yang tersisa dari kehidupanku di S1 dulu yang masih ada dan tidak hilang atau sengaja kubuang, dan saat memandang ijazah itu aku akan tersenyum kecil dan berkata “Oh…pernah ya aku lulus S1 ????”. Hmm…..semoga bukan impian dan doa sinis.
Kuliah dah mepet, dan aku harus segera balik ke Jakarta untuk bikin visa resident. Sekali lagi ya Allah, jangan hukum aku karena ketidak tahuanku. Oke, semua duka sudah dilupaan. Be spritful. 24 credit and a research is waiting. Let the bad past be burned in Ramadhan. Indonesian beautiful mind, is on the move.
- Muhammad Rizki Ramadhani, c M. Sc. -