Indahnya Ramadhan di Taipei

Taipei, 16 September 2007

Ini mungkin kali pertama aku menjalankan ibadah Ramadhan di luar negeri, di negeri orang. Unik memang. Dibilang biasa tidak, dibilang luar biasa juga gak terlalu. Biasa karena waktu di Taiwan sebenarnya sama dengan waktu di Indonesia bagian tengah. Jadwal sholatnya pun tidak jauh berbeda. Tidak ada kendala musim seperti halnya yang terjadi bagi mereka yang melaksanakan ibadah puasa di Eropa. Waktu tenggelam dan terbitnya matahari di Taipei pun sama seperti di Indonesia. Musimnya pun sama. Ada panas, ada hujan (dan benar - benar luar biasa melihat hujan pertama kali di Taipei), dan tidak ada salju walaupun katanya musim dinginnya juga sangat dingin (tapi aku belum ngerasain sih….)

Tapi yang cukup unik adalah kehidupan muslim disini. Jangan samakan disini dengan Jakarta dimana kita bisa mendengar azan setiap shalat tiba. Tidak ada azan yang mengingatkan kita, sehingga kita harus menyesuaikan diri dengan hal itu. Tapi tetap ada nadi kehidupan Islam disini. Total sih katanya ada 6 mesjid yang tersebar di seluruh negeri Taiwan, tapi yang jelas 2 di antaranya ada di kota Taipei. Masjid kecil Taipei di dekat Taipower building, dan masjid agung Taipei yang letaknya di dekat taman kota Daan, dekat kampus NTU.

Unik sekali melihat ada juga orang Taiwan asli yang beragama Islam. Dengan bacaan sholat dan azan menggunakan logat mereka. Saat buka puasa seperti sekarang ini mungkin saat yang paling menarik. Kita biasa berbuka puasa di masjid agung Taipei, dan saat berbuka tiba kalian akan melihat berkumpulnya muslim yang ada di Taipei di sana. Dari berbagai etnis. Afrika, Pakistan, India, Bangladesh, Kazakhstan, Indonesia, dan tak lupa orang Taiwan asli. Berbaur menjadi satu. Bagaikan melihat perwakilan muslim berbagai benua dan berbagai negara di Taipei. Jumlahnya cukup banyak juga, tadi saja mencapai 4 atau 5 shaf saat Tarawih. Kemarin aku sholat berdampingan dengan muslim Taiwan dan seorang Afrika. Hmm……pengalaman yang luar biasa. Sesudah berbuka, kami mahasiswa Indonesia ikut membantu keluarga penjaga mesjid yang asli Taiwan untuk membersihkan peralatan makan. Capek sih…tapi lumayan dapat pampasan perang makanan buat sahur. Yah setidaknya kita dijamin gak kelaparan dan tetap hematlah selama Ramadhan he..he….

Unik sekali melihat suasana keragaman etnis muslim saat berbuka itu, benar kiranya kebersamaan dalam Islam. Aku sih tidak mau pake kata ukhuwah, karena pengalamanku di kampus UI kata itu dipratekkan secara aneh dalam kehidupan nyata. Dan aku pun masih punya sedikit masalah dengan beberapa orang di Indonesia yang mengaku aktivis Islam, dan aku juga gak punya niat sama sekali memperbaiki hubungan itu..Biarin aja ah…Sudah lupakan saja, lagian aku juga bermil - mil jauhnya dari sini. Ini jadi dunia baru bagiku, dan dalam dunia baru ini aku senang melihat muslim dari berbagai suku bangsa bisa bercampur baur, berbuka bersama, makan dari satu meja tanpa membedakan warna kulit dan asal suku bangsa di antara mereka.

Islam memang bahasa universal dimana - mana.

- Ma Fu Yue -

Leave a Reply