8.45 to Yilan
Taipei, October 28th 2007
Terima kasih buat mereka yang sudah memberikan comments di blogku, sangat konstruktif. Aku jadi merasa bangga punya blog dan gak mau kuhapus-hapus lagi he..he…
Oke, berhenti mengasihani diri dan lebih baik menikmati indahnya Taipei. Aku lagi tergila-gila dengan film western cowboy baru berjudul "3.10 to Yuma". Jadi blog kali ini kuberi judul 8.45 to Yilan.
8.45 karena aku bepergian jam 8.45 kemarin lebih tepatnya (ngaret dikit sih). Yilan, karena kesanalah tujuanku. Yilan Shi, alias Yilan city, alias kota Yilan. Terletak di sisi barat pulau Taiwan, perjalanan ke Yilan akan membawa kalian melewati daerah pantai di pesisir Utara Taipei. Aku yakin pasti ada daerah pantai alias Hao Tan yang bagus di Taiwan. Cuman pantai yang kita lewati sangatlah terjal dan tidak cocok untuk berenang, kalau mau bunuh diri mungkin bisa he..he..(ini nanti aja ceritanya).
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan selama dua jam, kita akan masuk ke kota Yilan yang sangat asri, kental dengan nuansa pedesaan, banyak kuburan Cina dan punya beberapa kuil di perbukitan yang cocok buat jadi tempat shooting film kung fu.
Yilan adalah kota ketiga di Taiwan yang kukunjungi dalam dua bulan pertamaku di Taiwan ini. Selain Yilan, minggu lalu aku mengunjungi Taichung dalam perjalanan melukis bebek kayu yang mengesankan, dan juga tentu saja Taipei tempat tinggalku.
Kebetulan ada pagelaran budaya Indonesia, dan pagelaran itu dilakukan di Yilan karena disana ada pusat kesenian nasionalnya Taiwan.
Kebetulan lagi, yang pada waktu itu sedang mentas adalah rombongan Sulawesi Selatan. Kampungku sendiri. Wow….it’s fun bisa bertemu orang-orang satu kampung lagi. Jadinya, aku harus menjelaskan mengenai tari-tarian Sulawesi dan budayanya serta adat istiadat disana. Masak banyak yang gak tahu kalau Pangeran Diponegoro dimakamkan di ibukota Sulawesi Selatan, Makassar ?
Aduh ….ini nih yang bikin budaya kita gampang diambil dan diobrak-abrik bangsa lain. Gak heran deh Malaysia bisa ambil lagu Rasa Sayange, Caca Marica, dan Jali Jali (serta sebentar lagi ngambil lagu goyang dombret juga). Kita gak tahu budaya dan sejarah bangsa kita sih.
Beda rasanya melihat kebudayaan negeri sendiri jauh di negeri orang. Kau akhirnya akan merasa ada sesuatu yang dibanggakan, dan mungkin lebih merasa tidak tahu dengan bangsamu sendiri. Yah….kulutr alias budaya. Satu hal penting dalam kehidupan, yang sering pula menjadi benturan dalam kehidupan.
Aku ingat sebelum menikah tiga bulan lalu. Ayah sempat tidak setuju, lebih karena masalah budaya. Bukan benturan budaya, tetapi ketakutan bahwa aku akan mengesampingkan kebudayaanku yang mesti diwarisi turun temurun. Well, of course not dad.
Mestinya tamparan Malaysia dalam kasus Rasa Sayange memberi pengingatan pada kita untuk tetap menjaga budaya bangsa sendiri. Itulah aset bangsa. Dan aku pun berada disana, menjaga budaya bangsa yang majemuk, termasuk budayaku sendiri. Dan aku akan menjaga agar siapapun tidak boleh mengambil budaya bangsa kita yang unik ini, atau mencoba-coba mengganti budaya kita dengan identitas budaya lain dengan menggerus habis budaya Indonesia. Dead cert….
- Ma Fu Yue -