Are you a Moslem from Indonesia ?
"Are you a moslem, from Indonesia ?"
Pertanyaan
sederhana, tapi apa yang harus saya jawab jika misalnya pertanyaan itu
diajukan oleh orang Spanyol, Inggris, atau orang Taiwan ?
Pertanyaan yang berat, karena harus menyatukan dua hal yang perlu dijelaskan secara baik dan benar. Moslem & Indonesia.
Sepertinya
dua kata ini mungkin punya nuansa buruk, atau memang ketidak tahuan
orang - orang selama ini tentang Islam dan pengaruh berita barat yang
memojokkan Islam membuat begitu banyak pertanyaan berikutnya muncul.
"Are
all moslem like to bomb places ?", "Is your religion taught about
violence ?", "What is Islam actually ?", "Isn’t a moslem that bombs Bali ?"
Bertubi
- tubi, dan saya tentu saja bingung menjelaskan semuanya. Darimana
harus menjelaskan, seperti apa harus menjelaskan. Tentu tidak mungkin
kalau memakai pengalaman saya pribadi. Benturan pemikiran ala beberapa
aliran Islam, serta beberapa catatan hitam yang saya tahu hanya membuat
saya subyektif dalam menjelaskan kepada mereka yang belum tahu tentang
Islam. Lagipula saya juga takut akan blak - blakan ntuk mengungkapkan
beberapa hal mengenai pengalaman saya dalam pergerakan di mahasiswa
dulu, dan saya tidak menahan jika harus menjelaskan hal itu. Akan
kontraproduktif, dan hanya menambah masalah. Lagipula saya sedang
berusaha melupakan semuanya disini. Jadi sudahlah.
Tapi
setiap mahasiswa internasional, setiap mahasiswa muslim akan berhadapan
dengan kondisi yang sama setiap ada pertanyaan yang serupa.
Jadilah
saya berusaha menjelaskan hal - hal dasar semampu ilmu saya.
Menjelaskan terlalu tinggi mungkin mereka tak akan mengerti. Islam
adalah agama perdamaian. Bahwa Islam pun mengajarkan kasih sayang,
cinta terhadap sesama. Apa yang ditunjukkan oleh media barat adalah
tidak seimbang, karena mereka menyorot hal - hal yang negatif saja.
Lagipula kekerasan seperti yang dilakukan oleh orang - orang yang
mengatasnamakan Islam tidaklah bisa dijadikan alasan untuk
menggeneralisasi seluruhnya. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan,
mungkin merekalah yang salah mengartikannya. Dan kita mengenal konsep
persaudaraan dalam Islam.
Sampai
di situ dan beberapa diskusi panjang lebar lagi menyudahi percakapan
tadi. Saya pikir sang mahasiswa asing yang menanyakan kepada saya sudah
cukup puas. Saya hanya berharap semoga saya tidak salah memberi
penjelasan.
Saya tertegun mengingat peristiwa ini tadi, makanya
saya menulis pengalaman ini. Ya, begitu banyak pertanyaan tentang
Islam, khususnya Islam di Indonesia. Yang mereka lihat di dalam negeri
kita, akan menjadi pertanyaan besar yang kemudian harus kita jelaskan
nanti. Saya tidak menyalahkan mereka memiliki anggapan bahwa Islam itu
negatif, karena mungkin mereka belum tahu.
Yang bikin saya
kemudian tertegun adalah, bagaimana kita menjelaskan pertanyaan mereka
itu. Menjelaskan dalam dua sisi dengan dua masalah berbeda.
Pertama,
seperti apakah kita menjelaskan. Apakah saat dia bertanya pada muslim
yang satu, dia juga akan mendapatkan jawaban yang sama dengan muslim
yang lain ?? Bagaimana jika dia mendapatkan dua jawaban yang
bertentangan. Kedua, dan yang paling penting, setelah saya menjelaskan
pertanyaan dia tentang Islam tadi, akankah kemudian dia bisa melihat
tindakan nyata yang bisa meyakinkan dia untuk melihat sisi positif
Islam. Dan, semoga saja, kemudian mendorong dia untuk mendapat hidayah
memeluk Islam.
Saat ini gambar umat Islam yang sholat jamaah di Masjidil Haram bersaing dengan penyanderaan taliban
atau bom bunuh diri kelompok Islam tertentu di Eropa. Liputan tentang
semarak dan hangat hari raya Idul Fitri bersaing dengan kekerasan yang
mengatas namakan Islam di berbagai tempat termasuk di Indonesia.
Di
luar negeri, tidak peduli aliran kita, tidak peduli apakah kita pribadi
yang mengaku muslim mengerti atau tidak tentang agama kita sendiri,
pertanyaan aka mengemuka selepas kita memperkenalkan diri : "I’m a
moslem".
Dan kita dituntut
untuk bisa menjelaskannya. Pertanyaan sederhana yang mungkin mengandung
ribuan makna. Saya yakin sekali, diluar sana, puluhan mahasiswa muslim Indonesia mungkin pula mahasiswa muslim yang lain juga mengalami hal yang serupa.
Saya
hanya berharap saya tidak salah menjelaskan dengan ilmu saya yang masih
sempit ini. Dan semoga trauma saya di pergerakan tidak terlalu
mempengaruhinya. Ah…..saya masih berusaha melupakan hal itu.
- Catatan pinggir : Taipei, 17 Oktober 2007 -
October 19th, 2007 at 12:29 am
well, just said.. im muslim.. n im proud to be a mosleem.. ^_^ (klo tanya2 lagi.. ya jawab lagi.. hehehehe…)
October 27th, 2007 at 8:32 pm
mungkin cuma di negeri di mana muslim adalah minoritas, identitas keislaman kita benar-benar diuji… dan cuma di sana, identitas mazhabi bisa dilepaskan…
[memulihkan diri dari rasa desperate atas sisi gelap benturan mazhabi di negeri sendiri]