Beckenbauer di 2006

Taipei, 10 Oktober 2007

Aku melihat - lihat kembali arsip sepakbola, tepatnya piala dunia 2006 di Jerman kemarin. Sebuah keajaiban. Aku pegang Italia, pasti itu. Tapi bukan itu yang aku pikirkan.

Aku pikirkan mengenai Franz Beckenbauer. Sang Kaisar. Legenda hidup sepakbola Jerman. Dialah satu-satunya orang Eropa yang mendapat gelar juara dunia baik sebagai pemain maupun pelatih. Di Jerman 1974, dia menjungkir balikkan pandangan para pengamat yang menjagokan total football Belanda sebagai juara. Dia menjadi kapten Jerman saat memenangkan gelar juara dunianya yang kedua setelah merebut gelar eropa di Belgia setahun sebelumnya. Dia kembali sebagai pelatih tahun 1986. Di Mexico, dia hadir di final walaupun anak emas Argentina bernama Diego Maradona membuat dia tidak bisa membawa pulang gelar piala dunia.

Tapi hanya butuh setahun untuk melakukan pembalasan. Di Roma tahun 1990, Jerman bertemu lawan yang sama. Argentina. Dan Pembalasan hadir. Sebuah gol penalti di 5 menit terakhir pertandingan menamatkan perlawanan Argentina. Beckenbauer kembali sukses sebagai pelatih. Di stadion Olimpico Roma, dialah yang berdiri bak kaisar Roma di Koloseum. Beckenbauer, der kaizer, orang yang sukses di piala dunia sebagai pelatih maupun pemain. Di tanah Italia, dia dapatkan gelarnya.

Piala dunia akhirnya kembali ke kampung halaman Beckenbauer. Jerman 2006. Dia bukan pemain, dia bukan pula pelatih. Dia ketua panitia, penonton. Dan tentunya dia ingin menikmati gelar yang sama dengan statusnya sebagai penonton itu. Italia mungkin sudah jadi takdir bagi Beckenbauer. Dia pasti ada di sana, di Dortmund, tanggal 4 Juli 2006. Menyaksikan tim yang pernah dia pimpin melawan negeri tempat dia dinobatkan sebagai kaisar sepakbola. Setengah mencibir, dia menyinggung skandal sepakbola Italia saat itu yang menurut dia membuat Italia  tidak pantas jado juara dunia.

Ya….ya pasti dia menyaksikan pertendingan Jerman - Italia itu sampai akhir. Dan mungkin Beckenbauer lupa, tim yang sama, dalam kondisi yang sama, diterpa skandal, dan datang dalam keadaan malu, membekap Jerman di kota Madrid saat final piala dunia 1982. Dan kejadian yang sama terulang, 2 menit terakhir, Italia menutup cerita Jerman di piala dunia, di tanah mereka sendiri. Apa kiranya yang ada di pikiran Beckenbauer, saat melihat negeri tempat dia dulu dinobatkan sebagai kaisar, sekarang berbalik merampok gelar dunia di tanahnya sendiri ???

Italia, negeri sepakbola yang selalu dipandang sebelah mata, disaksikan dengan penuh rasa bosan. Orang heran mungkin dengan permainan kuno penuh pertahanan yang bikin mengantuk jika disaksikan. Cuman mereka tak akan pernah lupa, permainan membosankan ala Italia itu menghasilkan 4 gelar juara dunia. Dengan terakhir kali melawan takdir mereka sendiri.

Ya takdir. Takdir bernama kotak penalti. Kotak penaltilah tempat eksekusi Italia selama piala dunia berlangsung. Tidak pernah Azzuri keluar dengan selamat jika pertandingan sudah ditentukan di ajang adu penalti. Di Paris eksekutornya bernama Perancis, di Pasadena eksekutornya bernama Brazil. Azzuri bahkan tidak bisa menaklukkan kotak penalti di kandang mereka sendiri. Di Napoli, saat piala dunia berlangsung di Italia tahun 1990, Argentina bikin Italia menangis di kandang.

Dan di Berlin, mereka berhadapan dengan lawan yang pernah mengeksekusi mereka di kotak penalti. Perancis yang mengalahkan Italia lewat adu penalti di piala dunia 1998. Perancis pula yang bikin Italia patah hati, saat dengan golden goalnya mereka mengalahkan Italia di final Euro 2000. Dan sekarang Perancis punya kesempatan emas, mengeksekusi Italia sekali lagi di tempat pelaksanaan hukuman mati mereka. kotak penalti.

Tapi tidak, tidak. Karena keadilan akan selalu muncul bahkan dalam keadaan yang paling sederhana pun. Di kotak penalti, Berlin tahun 2006. Italia mengalahkan dewa sial mereka. Dan keberentungan yang menaungi Perancis pun lenyap. Revenge is sweet. Balas dendam itu manis. Dan itulah. Italia membayar dendam seluruh penampilan mereka di piala dunia, seluruh kegagalan mereka di adu penalti, dendam kepada Jerman, Perancis, di kotak penalti. Dengan gelar keempat mereka di piala dunia.

Luar biasa. Dan masih aku bertanya, apa kiranya yang ada dalam pikiran Beckenbauer. Saat Italia berbalik merampok piala dunia di tanah Jerman ???

Leave a Reply