Archive for October, 2007

10 Oktober yang libur

Wednesday, October 10th, 2007

Taipei, 10 Oktober 2007

10 Oktober, hari libur nasional di Taiwan, masih puasa. Gak kuliah, senang - senang deh…..hee. …he…Tapi aku ada workshop sehari penuh yang bikin bete, mana workshopnya dalam bahasa Cina lagi hu..hu….Btw penasaran gak kenapa tgl 10 Oktober jadi hari libur di Taiwan.

Tanggal 10 Oktober di Taiwan
dikenal sebagai Double Ten day. Sejarahnya sebenarnya terjadi jauh dari
pulau ini. Tepatnya di Cina daratan sana. Bagi kita yang mengenal Cina
lewat film - film kungfu, mungkin hanya mengenal Cina sebagai sebuah
kekaisaran besar. Namun sedikit yang tahu bagaimana Cina bisa menjadi
Republik dan kemudian terbelah dua menjadi dua yakni Cina daratan dan
Taiwan seperti sekarang.

Di awal abad ke - 20, dinasti yang
memerintah Cina adalah dinasti Qing. Inilah dinasti terakhir imperium
Cina, dengan kaisar terakhirnya bernama Pu Yi. Bagi yang pernah
menonton film The Last Emperor, film inilah yang  menggambarkan hari - hari terakhir kekaisaran Cina dengan kaisar Pu Yi sebagai pemimpinnya.

Cina
di awal abad 20 bukanlah sang naga dari Timur, sebuah kekaisaran yang
ditakuti yang pernah melebarkan sayapnya sampai ke semenanjung asia
tenggara dan perbatasan Arab. Pengaruh imperialisme asing ikut masuk ke
Cina, ditandai dengan dicaploknya beberapa wilayah Cina oleh penjajah
Asing. Tahun 1842, Hong Kong jatuh ke tangan Inggris, dan tahun 1895 Taiwan yang saat itu menjadi bagian kekaisaran Cina dicaplok oleh Jepang. Kekaisaran
Cina juga dipaksa untuk membuka Cina bagi orang kehadiran pedagang dan tentara asing, sehingga akhirnya kota Shanghai
dibuka dan menjadi pelabuhan dan tempat masuk bagi orang asing di Cina.
Kekaisaran Cina dianggap sudah tidak punya wibawa lagi bahkan kemudian
dijuluki The Sick Man of Asia (orang sakit dari Asia)

Cina
yang pernah begitu perkasa menjadi begitu lemah terhadap imperialis
asing. Tak heran banyak orang Cina sendiri yang sudah tidak percaya
lagi dengan kekaisaran. Angin keterbukaan yang berhembus ke Cina pun
membawa semangat baru bagi rakyat Cina, semangat nasionalisme.

Syahdan di kota kecil bernama Wuchang,
yang berlokasi di propinsi Hubei tepat di pinggir sungai Yangtze yang
indah di Cina, ada seorang Cina yang membawa semangat nasionalisme
bernama Sun Yat Sen. Sebenarnya dia adalah seorang dokter lulusan Hong Kong,
tetapi semangat nasionalismenya mendorong dia aktif di politik.
Kebetulan kekaisaran Cina saat itu mendidik tentara - tentara terlatih
yang dipusatkan di kota Wuchang. Tidak sedikit tentara kekaisaran ini
yang kemudian terpengaruh dengan ceramah politik pak dokter Sun Yat Sen.

Saat
itu juga, kota Wuchang menjadi tempat perakitan bom milik Rusia. Suatu
ketika, salah satu bom di kota Wuchang meledak. Peristiwa meledaknya
bom ini kemudian diselidiki oleh tentara kekaisaran. Tetapi bukan
investigasi bom yang mereka lakukan, justru yang didapatkan adalah data
- data rahasia tentang gerakan kelompok Sun Yat Sen dan ide - ide
mereka yang anti dengan kekaisaran. Hal ini berlanjut kepada interogasi
dan penyiksaan kepada mereka yang dianggap terlibat dalam kelompok
nasionalis pimpinan Dr. Sun Yat Sen.

Interogasi
dan penahanan inilah yang kemudian menimbulkan amarah dari kelompok
nasionalis. Tepat pagi hari tanggal 10 Oktober 1911, pecah
pemberontakan di kota Wuchang yang kemudian menjadi sejarah besar bagi
Cina. Betapa tidak, Wuchang Day menjadi awal dari runtuhnya kekaisaran
Cina yang sudah berusia ratusan tahun !!!!. Kaum tentara nasionalis
berhasil menguasai kota Wuchang selama beberapa jam. Walaupun kemudian
tentara kekaisaran berhasil merebut kota itu kembali. Tetapi masalah
bukan justru selesai, tapi malah jadi malapetaka bagi kekaisaran Cina.
Karena kemudian timbul gelombang simpati yang besar di seluruh Cina
bagi gerakan nasionalis, di samping timbul anggapan bahwa kaisar justru
mengirim tentara untuk membunuh rakyatnya sendiri. Setelah Wuchang Day
terjadi, 16 propinsi di China
kemudian mengumumkan bergabung dengan gerakan nasionalis Sun Yat Sen
dan menyatakan memberontak kepada kekaisaran. Dalam setiap gerakannya,
kaum nasionalis selalu membawa bendera dengan gambar 5 garis yang
menandakan 5 etnis besar di Cina, bendera yang kemudian dimodifikasi
menjadi bendera merah dengan 5 bintang seperti bendera Cina sekarang.
Kekaisaran tidak bertahan lama sesudah Wuchang Day terjadi. Kaisar Pu
Yi diturunkan sebagai kaisar (yang digambarkan begitu dramatis dalam The Last Emperor). Dan Cina pun berubah menjadi Republik.

Jika kita merayakan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan di Indonesia, maka 10 Oktober alias Wuchang Day adalah "17 Agustus" versi Taiwan.
Bahkan penghormatan mereka terhadap tanggal bersejarah Wuchang Day ini
begitu penting, sehingga mereka bahkan menggunakan tahun terjadinya
Wuchang Day sebagai tahun awal Republik Cina. Teman - teman mungkin
tahu kalau sekarang ini adalah tahun 96 di Taiwan.
Sudah tahu kan sekarang, kenapa tahun Cina saat ini baru sampai 96 ???
Ya 96 itu menandakan waktu sejak berlalunya peristiwa Wuchang yang
terjadi tanggal 10 Oktober 1911, tepat 96 tahun yang lalu.

Jadi
jika kita menggunakan peristiwa hijrahnya Rasulullah sebagai awal tahun
dalam Islam (tahun hijriah), atau orang barat menggunakan peristiwa
lahirnya Isa Al Masih sebagai awal tahun mereka (tahun Masehi), maka
orang Taiwan menggunakan peristiwa Wuchang sebagai awal tahun dalam penanggalan mereka.

Sayangnya Wuchang Day justru dirayakan di Taiwan,
yang notabene jauh dari tempat asal terjadinya peristiwa bersejarah ini
di Cina daratan. Maklum, sejarahnya setelah perang dunia II Cina
daratan dikuasai oleh kaum komunis Kung Chang Tang pimpinan Mao Zedong,
sedangkan kaum nasionalis Kuomintang pimpinan Sun Yat Sen yang kemudian
beralih ke Chiang Kai Shek yang sebenarnya memicu peristiwa 10 Oktober
justru terusir ke Taiwan. Itulah sebabnya sampai  sekarang Wuchang Day alias Double Ten justru dirayakan di Taiwan.

Jika mungkin kawan - kawan ada yang sempat ke istana kepresidenan di dekat Taipei
Main Station tanggal 10 Oktober besok, mungkin akan ada parade besar.
Dan jangan heran jika nantinya akan ramai tanda ++ dimana - mana. Ini
adalah lambang dari Double Ten Day alias Wuchang Day. Yup simbol +
berarti angka 10 (shi) dalam bahasa Cina. ++ adalah lambang untuk
double ten. Wow, sejarah rupanya tidaklah sesederhana yang kita
bayangkan ya.

Selamat menikmati kemerdekaan di negeri Orang. Berharap kita pun sudah merdeka juga sebagai bangsa.

Xiexie.

- Ma Fu Yue -
- Guoli Taiwan Daxue -
- Dian Gongcheng -
- Taipei Shi, Taiwan -

Love and Taiwanese Typhoon

Sunday, October 7th, 2007

Taipei, 7 Oktober 2007

Kayaknya aku sedang tergila - gila dengan album lagunya Simply Red yang terbit tahun 1999,"Love and Russian Winter". Jadinya pake judulnya deh sedikit untuk jadi judul blog, he…he….

Tapi bagaimanapun Russian Winter dan Taiwanese Typhoon sama. Dua - duanya kejadian alam yang sangat kejam. Musim dingin Rusia paling mengerikan di dunia, dan taifun di Taipei benar - benar merusak. Dua - duanya juga berlatar belakang perang. Russian Winternya Simply Red berkisah di Kaliningrad saat puncak operasi Barbarossa tahun 1942 antara Jerman dan Uni Sovyet. Bagiku di sini sama saja dengan perang. Apa namanya jika kau harus meninggalkan semua orang yang kau cintai, berada di tempat yang asing, punya satu tujuan besar yang harus kau lakukan dan niat sudah terpasang untuk tidak kembali sebelum selesai, di tengah kondisi yang menyulitkan. Yah, master degree disini adalah perang.

Tapi tentu ada "love" alias cinta di dalamnya. Disini aku selalu merindukan kekasihku. Anyway tadi taifun dah agak reda, dan aku buka puasa di masjid kecil Taipei di dekat Taipower Building. Menunya, kuliner Pakistan !!!! Nasi kare dengan bumbu yang unik, roti khas Pakistan, wow enakkkkkk bgt. Penuh nuansa persaudaraan. Orang Pakistan punya tradisi untuk melayani langsung tamunya, dan makan bersama dari satu pinggan. Enak banget tadi, entah kenapa aku lebih merasakan nuansa ukhuwah disini.

Ow….aku jarang olahraga nih. Sepertinya ritme aktivitas sehari - hari harus lebih diatur. PR photonics dah selesai, tapi topik tesis belum (harus minggu ini lho….), dan resume wireless dah setengah jalan. Ah…aku masih belum produktif. Tingkatkan lagi, dan rasakan menjadi mahasiswa master degree langsung dari dalam hati.

Nikmati saat menjadi mahasiswa, saat mengembangkan intelektualitas dan ide.

Sesuatu yang tidak bisa kurasakan dulu, dan malah bikin mati rasa.

Zaijian

- Ma Fu Yue, (cand) M. S. -

Typhoon !!!!!!

Saturday, October 6th, 2007

Taipei, 7 Oktober 2007

Kemarin badai besar baru saja melanda kota Taipei. Taifun sebutannya disini, atau Typhoon dalam bahasa Inggris. Terpaksa deh kerjaan di kamar aja, iseng sambil melahap buku Wide Gap dan buku Photonics sambil mencicil PR yang mulai menumpuk. Asyik deh.

Aku sebenarnya agak ngeri dengan angin ribut. Satu - satunya yang bikin aku trauma sih, ketimbang gempa atau banjir atau kebakaran. Aku sudah pernah mengalami semuanya. Tapi angin kencang adalah yang paling aku takutin. Mungkin karena bayangan bahwa angin topan dapat ikut menyeret manusia ke dalamnya, sehingga aku ngeri jika aku ikut terseret  bersama angin itu.

Taifun konon sudah dianggap sebagai salah satu musim tersendiri bagi oang Taiwan. Musim Taifun. Hm….aneh karena ini adalah bencana alam. Tapi bencana yang satu ini sudah sedemikian biasa bagi orang Taiwan, sehingga mereka selalu sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelu si Taifun datang. Dan Taifun disini datang hampir tiap tahun. Beda dengan Jakarta, di Jakarta juga ada bencana tahunan. Banjir !!!!!!! Tapi pemerintah selalu dan selalu tidak  siap.

Tapi sepertinya aku mulai harus memperhatikan kondisi fisikku nih. Pertama, tidur berlebihan. Kupikir ritme tidurku disini berubah, mungkin karena kondisi kota  yang berbeda dengan di Indonesia. Tidak ada adzan yang akan membangunkan kita di waktu subuh, so…bablas deh……Pengalamanku menstabilkan waktu tidur benar - benar sulit. Kita coba deh.

Dan aku rasa aku pun sudah harus mulai berolahraga. Melemaskan kaki. Entah dengan naik sepeda atau jalan kaki keliling kampus. Aku lupa satu hal waktu aku tiba di Taipei. Aku orang yang suka membaca, dan sangat tidak suka buang - buang waktu. Jadi biasanya kalo lagi iseng aku membawa buku bacaan untuk dibaca. Novel, atau sejenisnya yang ringan. Tapi aku gak membawanya sama sekali disini !!!! Hu..hu….Mana bisa kan aku baca novel Cina. Untung buku Wide Gap-nya masih tergolong ringan untuk dibaca. So…ganti deh baca buku kuliah kemana - mana, walaupun dibilang aneh sama orang.

OK. Master of Science is on the move. Gak bakal kupakai deh gelar Sarjana Teknik-ku kalau dah dapat MS alias Master of Science dari sini.

- Muhammad Rizki Ramadhani, S.T. -
- Ma Fu Yue, (cand) M.S. -

Aku Malu.

Friday, October 5th, 2007

Taipei, 6 Oktober 2007

Kuliah sudah jalan 2 minggu, tapi terus terang aku malu.

Pertama aku belum bisa berbahasa Cina dengan baik, padahal dah les di Indonesia cukup mahal. Sepertinya aku harus berani menggunakan bahas Cina disini tanpa takut salah. Percuma belajar hanya dari buku, tak ada gunanya kalau tidak diaplikasikan.

Kedua, aku malu karena rupanya begitu sedikit sekali hasil kuliahku di S1 yang masih kuingat, masih relevan, dan berkaitan dengan kuliahku disini. Sekarang aku ambil 12 sks setara 4 mata kuliah. 3 mata kuliah diantaranya adalah kuliah optoelektronika, aplikasi optik dalam elektronika yang sepertinya akan jadi bidangku karena aku ambil tesis disini Insya Allah tentang penerapan laser dalam biomedik. Satu lagi kuliah wireless. Tapi kok hanya sedikit yang berkaitan dengan kuliahku dulu di UI.

Ada 3 kesimpulan yg bisa kuambil. Satu memang ada perbedaan kurikulum yang cukup besar antara Indonesia dan Taiwan. Jika ini yang terjadi, maka kurasa kurikulum di negeri kita perlu berubah. Disini aku merasakan kuliah yang menyenangkan, kuliah sesuai minat, kuliah tidak di bawah tekanan. Semua karena kuliah yang ada diatur dengan baik dengan dosen - dosen yang juga tidak bertipe "killer" tapi juga cukup memperhatikan mahasiswanya. Beda dengan aku yang selalu tertekan saat S1 (dan banyak juga yang merasakan demikian).

Dua memang kuliah dulu tidak mengajarkan kita apapun, tidak ilmu - ilmu dasar, tidak ilmu - ilmu aplikatif, tidak ilmu - ilmu praktis, hanya sekedar beban ilmu. Wah, manajemen dan psikologi pendidikan kita yang harus diubah. Percuma dong kuliah 5,5 tahun, duit keluar banyak, tapi begitu sedikit ilmu yang didapat, dan yang lebih gila lagi begitu sedikit ilmu yang dapat diaplikasikan. Ini yang disebut Paulo Freire, seorang edukasionis Brazil, bahwa sekolah adalah penjara. Sekolah adalah perbudakan dimana murid dipaksa oleh guru untuk belajar, dan mereka harus menanggung beban belajar itu dengan begitu sedikit hasil yang diperoleh. Kupikir ini yang lebih tepat. Mungkin ini kenapa banyak kawan - kawan teknik yang kemudian memilih masuk ke manajemen atau terlibat politik. Kuliahnya di S1 gak guna atau tidak terpakai untuk ilmu dan kerja lebih lanjut. 6 tahun hanya untuk ijazah. Ijazah cuma formalitas

Dan ketiga, aku tidak bisa mengatur kuliahku dengan baik sehingga apa yang lalu sama sekali tidak berkaitan dengan sekarang. Yah, aku yang dulu adalah aku yang serampangan. Aku yang luntang lantung, acak - acakan, tanpa rencana. Kaupikir kau sudah merencanakan dengan baik, padahal belum kawan. Ya lihatlah diri dan hidupmu sekarang sebelum kau yakin kau sudah merencanakan itu. Aku tidak akan mau mengulangi itu lagi. Tidak akan pernah !!!!!! Tidak juga anak dan cucuku jika aku dikaruniai.

Oke…lupakan…lupakan…lupakan. Lupakan 5,5 tahun itu. Kau sudah mendapatkan semua gantina disini. Teman sekamar yang baik dan tidak suka mengolok - olok, teman - teman seagama yang bergaul tanpa pandang kubu - kubuan, aktivitas kemahasiswaan yang menyenangkan tanpa dipengaruhi atau jadi underbouw partai tertentu, ah it’s nice. Jadi….lupakan…..lupakan….lupakan.

Lupakan 5,5 tahun masa S1-mu yang gak guna itu.

Eits….kecuali satu. Jangan pernah lupakan istrimu. Satu - satunya mutiara indah dari babak hidupku yg paling kelam itu.

Bakal ada badai besar di Taipei hari ini. Lumayanlah ada waktu buat mencuci dan baca buku photonics sampai ngerti.

Call me master, OK.

- Sorong -

Biophotonics & Wide Gap

Tuesday, October 2nd, 2007

Taipei, 2 Oktober 2007

Akhirnya semua literatur yang kubutuhkan dah ada. Aku ambil 4 mata kuliah tapi cuman 2 yang pake textbook. Yang dua lagi kuliah tanpa textbook alias sesi bebas (yeah……..I love it). Lumayan an jadi menghemat duit untuk beli buku. Lagipula internet gratis 24 jam untuk download paper sesukanya he..he…

Introduction to Biophotonics dan Wide Gap Semiconductor Technologies. Itu dua kuliah yang menggunakan buku. Aku yakin buku ini belum ada di Indonesia. Lumayanlah dapat di Taipei. Buku - bukuku dah banyak yang hilang selama proses pindahan dan selama perjalanan kuliah di UI. Yang masih ada pun rata - rata kopian semua alias gak ada yang asli. So, nice to have this one.

Aku sangat menikmati kuliahku, dan aku sangat menikmati membaca buku - buku ini. Mungkin karena sistem pengajaran di Taiwan yang terfokus kali ya. Tidak perlu banyak - banyak kuliah, tapi memperdalam kompetensi. Beda dengan bombardemen kuliah seperti yang ada di Indonesia. Kupikir para pakar psikologi pendidikan kita punya PR banyak untuk mengubah hal itu sehingga kata - kata Freire yang saat ini tampak nyata di Indonesia bisa salah : "Sekolah adalah penjara, sekolah tidak membuat orang tambah pintar tapi tambah menderita."

Well kupikir akan kuikuti kata - kata temanku Rocky. Perdalam pemahaman dalam membaca dua buku ini, dan tentunya resapi seluruh kuliah masterku ini. Minimal aku bisa ngajar untuk dua kuliah ini nanti he..he…..

Yup, the master is under construction.

- Ma Fu Yue -
- Loving Taipei, enjoying my life now, and missing my wife -

Renungan : Saat aku merasa jadi mahasiswa yang sebenarnya

Monday, October 1st, 2007

Taipei, 2 Oktober 2007

Akhirnya ada waktu untuk nge-blog lagi. Ah….senangnya hari ini, aku sudah masukin list kuliahku semester ini. 12 sks. Senang sekali hari ini bersama kawan - kawan dan juga melihat suasana kota Taipei.

Jadi merenung kembali ke masa laluku yang baru 7 bulan kutinggalkan. Ya, UI..UI…dan UI. Tidak ada habisnya membicarakan kampus yang satu itu. Tidak di tataran professional bagi para birokrat di kampus, tapi juga bagi hidupku. Ah…akhirnya ada waktu untuk bermuhasabah juga.

Jujur disinilah, di Taipei, di NTU, aku benar - benar merasa jadi mahasiswa kembali. Menjadi mahasiswa yang sebenarnya. Dulu banyak teman - teman yang bertanya, kenapa sih rong kamu tidak meneruskan karirmu di politik ? Ambil bidang ilmu yang sesuai ? Ha…ha…kawan. Aku tidak berhenti berpolitik, aku tetap berpolitik. Kali ini dengan cara yang lain, cara yang beda, cara yang hanya aku sendiri boleh tahu. Tidak mungkin aku meninggalkan bidang yang telah mendidikku bertahun - tahun. Mendidikku melihat penjilat, manusia bertopeng, tapi juga realita di satu sisi. Tapi jujur aku merasa belum menjadi mahasiswa. Itulah kenapa aku benci S1- ku di UI. 5,5 tahun babak kehidupanku.

Aku berpolitik disana, mungkin sebagian besar hidupku. Dalam nama beken sebagai aktivis mahasiswa. Orang hanya memandang aktivis mahasiswa di luarnya saja. Tetapi tidak, bagiku hanya sedikit babakan hidupku di politik kampus dimana aku mengatakan diriku sebagai aktivis. Aku berorganisasi, ya. Tetapi sebagian besar dalam bentuk trial dan error. Mencoba satu kepanitiaan ke yang lain, mencoba satu organisasi ke yang lain. Terlalu banyak yang tidak cocok daripada yang cocok. Ditambah dengan seluruh konstelasi politik brengsek (ya Allah aku tak akan mengatakannya lagi disini), aku mendapatkan satu hal buruk : TRAUMATIS. Dan di ujungnya aku melupakan satu hal yang penting bagi aktivis mahasiswa : KONSISTENSI. Konsistensi dalam berbuat. Konsistensi dalam merencanakan.

Ya ada baiknya memang. Aku belajar mana yang buruk dan mana yang baik. Aku belajar menentukan idealisme dan pikiranku. Kita tak akan tahu mana yang benar sebelum melihat dan merasakan yang salah. Tak kusangka ongkosnya terlalu besar. Ongkos airmata, keringat, dan pikiran. Dari sekian banyak aktivitasku, mungkin hanya SMFTUI, MPM FTUI, dan MWA UI yang mau kuingat. Yang lainnya kuhapuskan dari CV - ku. Buang aja di tempat sampah. Inilah pelajaran buat kalian yang masih muda, yang menganggap bahwa banyaknya organisasi kalian atau banyaknya emblem di jaket kalian adalah hal yang membanggakan. Cih…..gw mau buang itu semua.

Dan akhirnya itu berimbas ke hal lain, hal yang sebenarnya penting. Yakni mahasiswa. Apa bedanya menjadi aktivis dan menjadi aktivis mahasiswa ?? Ya kata mahasiswa. Ya itulah, yang aku korbankan dulu. Sisi akademisku. Salah merencanakan organisasi, akhirnya aku berantakan di kuliah. Benar aku sekali jadi mapres jurusan. Benar IP akhirku 3,11. Tapi itu semua akibat salah perencanaan. Diluar dugaan. Aku sama sekali tidak bangga dengan 3 atau 4 kali mengulang mata kuliahku.

Dan rasa bersalahku makin membuncah lagi, kalau mengingat ortuku. Yang mereka pegang hanya ijazahku. Bahwa aku seorang sarjana teknik. Tapi tidak transkripku, dan tidak akan pernah karena transkripku sudah hilang entah kemana. Kalau ayah melihat transkripku pasti dia akan marah besar, dia sudah mewanti - wanti tentang konsistensi belajar sebelum aku S1. Yah, akhirnya seperti ini. Dan aku pun akhirnya mengalami apa yang kemudian dikeluhkan sebagian besar junior di UI. Belajar hanyalah formalitas. Kuliah adalah penjara. Kita kuliah bagai diperbudak buku dan SKS. Hasil akhirnya adalah nilai A sampai C, bukan aplikasi ilmu. Dan jadilah lebih banyak para oportunis politik, ketimbang mereka yang profesional di bidangnya. Ya aku hampir tak membawa satu ilmu apapun bersamaku setelah aku lulus. Kuliah bukan karena dinikmati, tapi karena tekanan.

Semua pelajaran itulah yang akhirnya kuterapkan di akhir. Berhenti membombardir organisasi, belajar fokus, seperti yang istriku selalu ingatkan. Itulah mengapa aku belajar lebih profesional . Dulu sebagian besar tenaga dan waktuku kupakai untuk coba - coba sana sini dengan hasil yang tidak produktif. Mengapa tidak dengan jumlah yang sama kupakai secara lebih terencana sekarang.

Apa yang menjadi hasil di S1 UI hanyalah sebuah ijazah. Tidak lebih !!!!!!!! Aku bukan seorang profesional. Dan bagiku haram menggunakan sesuatu yang kapasitas yang tidak kumengerti, walaupun aku harus melupakanku.

Kelak jika ada orang bertanya : Sorong, apa yang kau lakukan saat di UI dulu ? Akan kujawab, aku aktivis mahasiswa. Aku belajar politik, belajar baik dan buruk. Tapi apa kompetensi dan sisi profesionalitas yang kudapat. Itu mengapa aku meneruskan kuliahku di S2 tetap pada bidang elektro. Belajar melupakan, dan belajar membayar utang di sisi lain.

Dan disinilah aku merasa menikmatinya. Taipei, di negeri orang. Aku menikmati kuliahku. Aku menikmati menjadi mahasiswa. Aku serasa muda kembali. Dan aku bisa menjadi mahasiswa sekaligus aktivis di sisi lain. Dengan tekad untuk kembali mengulang aku yang selalu berprestasi di SMU. Sesuatu yang terkubur karena ambisi dan juga kondisi selama S1. Betapa aku ingin lulus cum laude, pernah menulis buku atau pernah bikin publikasi. Di sini tempatnya. Sekarang saatnya. Dan pelajaran hidup 5,5 tahun dengan sertifikat lulus bernama ijazah UI itu aku aplikasikan disini.

Dan disini pulalah aku akhirnya ingin menggunakan kembali kata yang dulu aku sudah tak mau menggunakannya. Kata dimana aku sudah kehilangan keyakinan atas kata itu. Aku merasakan UKHUWAH. Ikatan persaudaraan. Disini, di negeri orang, ikatan itu begitu kuatnya. Aku tahu dari berbagai mahasiswa muslim di Taipei, ada yang ikhwah, NU, muhammadiyah, dan sebagainya. Tapi tidak ada batas - batas itu disini. Bahkan selama Ramadhan. Kita adalah satu bangsa di negeri orang, dan kuatlah ikatan itu. Celana puntung atau celana pendek, celana ngatung atau celana pendek, rok atau celana jeans, merokok atau tidak, jenggot atau rambut gondrong, kita adalah satu selama sama - sama muslim. Makan dari pinggan yang sama. Duduk sama - sama, dan buang warna kita di tempat sampah. Disini ada sesuatu yang bernama UKHUWAH.

Dan disinilah aku menyatakan mengapa aku begitu membenci PPSDMS. Bukan karena beratnya didikan disana, bukan karena apa - apa. Disana katanya aku bersama dengan 19 orang saudara. Saudara ???? Ha…ha….tahu tidak sih kalau aku selalu dicela - cela dengan olok - olokan oleh mereka yang katanya saudaraku itu. Mereka melakukannya dengan sadar, terus menerus, bahkan selepas dari PPSDMS pun mereka masih mengolok - olok lewat email. Dan mereka merasa tidak menyakiti orang lain. Maaf memang terlontar, tetapi seperti halnya kata maaf. Maaf adalah kata, maaf adalah formalitas. Maaf bukanlah suatu tindakan yang konsisten. Kasih maaf habis perkara. Bilang itu pada mereka yang pernah mengatakan padaku bahwa berbuat salah adalah mebuat paku di lubang. Kalau aku harus membasuh luka di semua orang yang pernah kuberi salah, siapa yang akan membasuh luka di hatiku ? Ditambah lagi kelakuan politik beberapa orang disana yang tidak lagi melihat orang lain yang sesama muslim. Aku masih heran pada beberapa kawan yang jadi "bos" di UI. Makan dan tidur bersama di asrama, tapi di kampus tidak ada hal itu. Kita tersekat pada batasan "kami" atau "bukan kami". Itu ukhuwah ?? BULLSHIT. Berapa banyak orang yang mengaku padaku, "aku teman sejatimu", atau "loe bisa percaya sama gw". Heh…….buktikan kalau kamu memang pantas jadi teman sejati atau bisa dipercaya. Bukan memperbudak !!!!!!!!

Ah….akhirnya bisa keluarin sampah hati juga. Ah…I love Taipei. Sayang tidak ada istriku disini. Tapi Alia sayang, aku selalu ingat kata - katamu sebelum aku pergi. "JIKA KAMU MENGATAKAN TIDAK BISA MELUPAKAN, MAKA SELAMANYA KAMU TIDAK BISA MELUPAKAN.YOU’RE WHAT YOU THINK." Yah, kota ini membantuku melupakan semuanya. Percayalah, aku ingin sekali melupakan. Karena itu menjadi beban pikiranku juga. Kuharap semuanya sudah kubuang di Samudra Pasifik.

Setiap miladku aku selalu berdoa,Ya Allah jika kehidupan S1 - ku di UI adalah ujian terberatku, mohon beri ganti yang lebih baik sesudahnya, dan biarlah aku ikhlas menjalaninya sebagai takdir yang tak bisa diubah.

Sudahlah, aku ingin melupakan. Dan Taipei sangat indah untu dilupakan. Duka itu terhapus sudah. Oh…biarkan hari - hari indah inilah yang mengisi hidupku. Dan biarkan waktu gelap itu pergi. Semoga aku jadi orang yang belajar dengan tidak mengulangi kesalahan dua kali. Taipei ……Taipei.

- Taipei -
- Sorong -