Pernikahan “Singkat” di awal, sebuah trend ????

Saat aku menerima pesan di YM dari kawan di Taiwan
yang menyatakan bahwa dia akan menikah awal 2008 nanti, aku bersyukur
sekaligus bertanya-tanya. Bagus memang karena dia akan menikah, tapi
dia masih harus melanjutkan pendidikannya di Taiwan
setahun lagi. Dan yang luar biasa, calon suaminya sampai saat ini juga
masih berstatus mahasiswa di Jerman dan masih harus melanjutkan kuliah
setahun atau dua tahun lagi. Artinya, mereka berdua akan menikah di Jakarta nanti. Kemudian bersama-sama selama liburan musim dingin yang hanya sekitar dua minggu di Indonesia . Dan kemudian kembali ke tempat masing – masing. Satu di  Taiwan, satu di Jerman. Satu di timur, satu di barat, dan berpisah minimal setahun.

      

Mungkin yang teringat dalam pikiranku adalah kondisi pribadiku sebelum berangkat ke Taiwan . Menikah baru 2 minggu, dan sudah harus meninggalkan keluarga untuk berangkat ke Taiwan . Sempat ada juga yang mengolok – olok aku dalam hal ini, tetapi sesampainya aku di Taiwan . Rupanya aku baru sadar kalau “kasus” seperti aku tidak sedikit.

 

Ada kawan di Taipei yang juga sama. Baru menikah sebulan, kemudian pisah karena dia harus melanjutkan  pendidikan di Taiwan. Sementara istrinya juga mesti melanjutkan pendidikan ke Melbourne , Australia . Ada senior Ph. D. juga, kasusnya tidak begitu ekstrem sih tapi tetap aja unik. Beliau kuliah di Taiwan , akan segera melanjutkan lagi ke Jepang, dan selama kuliahnya di Taiwan
sempat meninggalkan istri yang saat itu dalam keadaan hamil. Dan
istrinya saat itu sedang kelanjutkan pendidikan di Malaysia . Jadilah
harus bolak-balik TaiwanMalaysia
. Aku jadi teringat juga sebelum berangkat ada juga kawan yang
meninggalkan istri dalam keadaan hamil untuk melanjutkan pendidikan di
Singapura.

      

Sedikit
unik. Menikah sebentar, kemudian pisah untuk waktu yang tidak
ditentukan. Bisa cepat, bisa lama. Aku pernah ngobrol mengenai hal ini
dengan rekan mahasiswa internasional asal Spanyol di Taipei.
Dia kaget saat tahu aku sudah menikah di umur 23, dan kaget juga
mendengar “kasus-kasus” seperti ini. Rumit banget katanya, kenapa gak
tunda dulu nikahnya sampai sesudah kembali lagi ke tempat asal.
Entahlah, mungkin dia yang berasal dari Spanyol, wilayah Eropa yang
sudah jelas banyak terjadi seks bebas menganggap metode nikah ’singkat’
di awal ini aneh.

 

Tapi
dengan adanya banyak kasus, aku juga jadi bertanya-tanya. Sebenarnya
kenapa mulai banyak terjadi hal ini. Terutama bagi para mahasiswa yang
akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Hal seperti ini tidak bias dibilang salah. Ada positif maupun negatifnya.

      

Mungkin
positifnya adalah adanya komitmen di awal. Sehingga para pengantin baru
yang akan menempuh kuliah di luar negeri tidak repot-repot memikirkan
urusan nikah dan jodoh, serta lebih fokus saat kuliah nanti. Dan itu
menjamin mahasiswa yang di luar negeri tidak ‘macam-macam’ (tidak
‘macam-macam’ ???? apa artinya nih, positif atau negatif ?? Ha…ha…).

 

Tapi
di sisi lain, masa awal yang singkat ini tentu akan menyulitkan bagi
pengenalan awal kedua pasangan yang baru menikah. Masa-masa awal
pernikahan yang mestinya diisi dengan saling mengenal kedua pasangan
pun harus diinterupsi karena kewajiban untuk menuntut ilmu di tempat
yang jauh untuk waktu yang bisa jadi lama. Kemudian berganti jarak yang
jauh dan rasa saling percaya di antara kedua pasangan yang mesti
dipertebal dalam waktu-waktu mereka berpisah.

      

Positif ada, negatif juga ada. Cuman dengan semakin banyaknya trend seperti ini, setidaknya yang saya lihat di Taiwan
ditambah cerita beberapa kawan-kawan yang juga sedang kuliah di luar
negeri, apakah memang metode nikah ‘singkat’ diawal ini jadi tren bagi
kawan-kawan yang akan kuliah di luar negeri ??? Apakah mereka sudah
memikirkan sisi psikologis, dan juga lain sebagainya ketimbang
memfokuskan kuliah dulu ???

   

Sebenarnya ini pun pertanyaan yang kembali kepada diri saya sendiri. Karena saya pun berada dalam lingkaran itu. Hmmmm…….mungkin
satu hal yang mendorong hal itu adalah kepastian (kepastian bahwa
pujaan hati gak disambar orang kali ha…ha….) .

Lagipula
tergantung seperti apa kita merencanakan kuliah, kita pun bisa membawa
serta pasangan atau minimal bolak-balik (kantong yang kempessssss…….).
Pengalaman kawan-kawan yang sudah mengalami masa nikah ‘singkat’ diawal
menunjukkan bahwa mereka bisa menempuh itu sebagai ujian. Dan mereka
bisa menjalani itu dengan baik, walaupun menikah dengan proses yang
cepat, waktu yang cepat, hanya bersama-sama diawal dalam waktu yang
singkat, dan kemudian berpisah.

 

Bukankah Adam dan Hawa juga pernah terpisah sejauh Padang Arafah dan Hindustan . Atau Ibnu Hazm yang orang Cordova
harus terpisah dari istrinya yang keturunan berber Maroko dalam
sejarah. Buat yang nanti mau kuliah ke luar, dan memutuskan nikah dulu,
yah bias melihat lah dan mempertimbangkan kondisi yang ada.

      

Sementara
itu kembali ke kawan yang mau nikah dan segera ‘berpisah’ itu,
fiuhhhhhh……aku gak bisa bayangin deh. Kupikir aku sudah contoh paling
‘gila’ yang sudah ada dalam sejarah pernikahan. Mungkin suatu saat ada
dua orang, satu bekerja di kutub utara dan satu di kutub selatan,
tiba-tiba menjadi jodoh dan menikah, terus kembali ke tempat
masing-masing dan hanya bertemu sekali setahun. Waduh………….

 

Jadi berpikir lagi deh kata-katanya Ernest Hemmingway, LOVE IS CRAZY

馬富月
國立台灣大學

台北市

Ma Fu-Yue
National Taiwan University
Graduate Institute of Photonics & Optoelectronics
Taipei City
Taiwan

Email : riz_poetry@yahoo. com
Personal blog :  http://rizkiramadhani.blogspot. com

Leave a Reply