Archive for February, 2008

Syair Ayat-ayat Cinta

Thursday, February 14th, 2008

Taipei, 15 Februari 2008

Alhamdulillah,
dapat juga video sundtracknya Ayat-ayat Cinta. Filmnya sih memang agak
aneh. Tetapi saya akui syair lagunya sangat menyentuh. Hanya satu orang
yang teringat dalam benakku saat mendengar lagu ini, istriku tercinta
Alia Prima Dewi yang sudah 6 bulan tidak pernah kulihat lagi wajahnya.
I miss her very much. Anyway, video ini pun bisa didownload dari URL :


http://www.youtube.com/watch?v=aRPORLQCXwE&feature=related

============================================================


Ayat-ayat Cinta OST by Rossa (Made by Adam Huud)

Desir pasir di padang tandus
Segersang pemikiran hati
Terkisah ku di antara cinta yang ruhwi

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan

Reff :

Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin kucegah
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu

Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan

Reff :

Maafkan bila kutak sempurna
Cinta ini tak mungkin kucegah
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu

Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Ketika ku bersujud

Kang Abik dan dua sisi Ayat-ayat Cinta

Thursday, February 14th, 2008

Tak ada satu penulis novel cinta bernuansa Islam yang saat ini lebih
terkenal dibanding Habiburrahman El Shirazy atau biasa dipanggil kang
Abik. Ayat-ayat cintanya sudah diangkat ke layar lebar, sementara
dwilogi pembangun jiwanya dalam "Ketika Cinta Bertasbih" laris manis di
pasaran. Walaupun dua novel terakhirnya tidak pernah bisa saya
selesaikan. Bukan tidak mau, atau tidak ada waktu. Tetapi saya pun
bingung mengapa saya tidak bisa menyelesaikan buku "Ketika Cinta
Bertasbih" yang begitu penuh penghayatan, tidak begitu jauh dengan
masterpiece Ayat-ayat Cinta.

Tidak dipungkiri, seorang penulis
cerita yang jenius adalah mereka bisa membuat cerita yang membawa
pembacanya untuk tidak sekedar membaca. Tapi juga menghayati isi bacaan
yang ditulisnya dengan bahasa yang sederhana tapi menghanyutkan. Jika
misalnya tulisan itu menulis tentang cinta, maka si pembaca diajak
untuk menghayati tentang cinta itu. Jika tulisan itu mengenai
kemiskinan, maka si pembaca! pun terhanyut dalam relung-relung
kesusahan lahir dan batin serta bisa meresapinya. Bahkan jika kisah itu
bercerita tentang dendam dan kebencian, maka si pembaca pun terhanyut
untuk merasakan seperti apa dendam dan kebencian yang dirasakan di
dalam buku. Hanya sedikit penulis yang seperti itu. Saya pribadi
merasakan hal itu dalam beberapa karya sastra semisal Sir Arthur Conan Doyle dalam seri-seri    Sherlock Holmesnya atau beberapa syair Jalaludin Rumi.

Kang
Abik bisa dibilang sedikit masuk ke kategori itu. Sedikit karena
spesialisasinya adalah soal-soal berbau "cinta". Dan memang penghayatan
itu bisa sangatlah dalam jika kita melihat karya-karya beliau. Ditambah
dengan begitu banyaknya pemuda-pemudi Islam di tengah benturan
peradaban modern namun tengah mencoba mencari makna cinta dalam Islam,
buku-buku kang Abik makin menemukan segmen pembacanya di Indonesia.
Impian tentang mendapatkan jodoh dan pujaan hati, berbalut keindahan
suasana kota Mesir yang selalu tercantum di bukunya, dan akhir yang
indah. Orang bisa bilang ini hanya mimpi, tapi inilah impian semua
orang. Sangat manusiawi, sangat manusiawi.

Dan justru karena
karya sastra beliau sangat manusiawi itulah terkandung pula
kelemahannya. Karena "cinta" yang awam adalah cinta yang penuh dengan
emosi. Sedih, gembira, gelisah, kecewa, dan sebagainya. Dan saat cinta
bertemu dengan emosi manusiawi itulah timbul kelemahan. Apalagi jika
tidak memahami seperti apa cinta tidak diletakkan dengan baik dan
benar. Maka cinta akan terbagi ke dua kutub. Di satu kutub ada mereka
yang dimabuk cinta dan disisi lain ada barisan patah hati.

Makanya jika dicermati, dalam karya-karya kang Abik pun ada    tokoh-tokoh patah hati. Dalam Pudarnya Pesona    Cleopatra tokoh itu adalah Raihanna, istri yang tersia-sia sampai akhir    hidupnya dan sang suami yang menyesal di akhir. Dalam Ayat-ayat Cinta, tokoh itu adalah Maria    Ghirgis yang baru menemukan cintanya di nafas-nafas terakhir hidupnya. Dalam    Ketika Cinta Bertasbih 1,
tokoh itu adalah Fadhil sang pemuda Aceh yang dengan tegar bernasyid
pada pernikahan gadis yang sedianya akan dia lamar namun urung terjadi.
Sedangkan di buku Ketika Cinta Bertasbih 2,
tokoh itu adalah Furqan Andi Hassan yang harus kehilangan gadis
impiannya hanya karena ketidak tahuannya terhadap penyakit AIDS.
Pembaca karya kang Abik mungkin akan lebih terbawa pada kisah tokoh
utamanya yang selalu happy ending. Siapa yang tidak ingin bahagia
seperti Fahri di Ayat-ayat Cinta atau Azzam di dwilogi Ketika Cinta
Bertasbih. Dan wajar jika seorang penulis lebih memfokuskan alur kisah
pada sang tokoh utama.

Namun pernahkah kita berpikir kalau kita
berada tidak sebagai pemeran utama yang happy ending, tapi justru pada
si patah hati itu ?? Tentu akan begitu menyedihkan. Bagaimanakah
kiranya kesedihan Fadhil dibawa dalam Ketika    Cinta Bertasbih,
dan adakah dia menemukan ganti yang lebih baik, sampai akhir buku pun
tidak diceritakan. Makanya, bagi mereka yang menggilai "Ayat-ayat
Cinta" dan sebangsanya, saya justru melihat kelemahan lain dari sisi
ini. Pada tokoh patah hati yang jauh lebih tidak jelas nasibnya.

Baiklah,
kita bisa berkata bahwa setiap orang punya takdirnya sendiri. Dan tidak
sehelai daun pun jatuh ke bumi kecuali atas izin Allah, apalagi masalah
jodoh. Namun kita berhadapan dengan hati manusia, yang setelah terluka
belum tentu akan langsung sembuh. Butuh waktu, butuh proses dan entah
apa yang akan terjadi dalam proses dan waktu itu. Sebuah hikmah pun
kadang akan terasa sakit jika diingat. Jika hikmah itu adalah sebuah
harapan, dan harapan itu kemudian tidak terjadi. Entah dalam bentuk
perjodohan yang tidak tercapai, optimisme akan nilai ujian yang bagus
namun rupanya tidak tercapai, hangusnya peluang mendapat beasiswa
karena salah melihat deadline tanggal, dan lain sebagainya.

Begitupun
jika cinta hanya dimaknai sebagai nuansa "merah jambu". Padahal di
seberang pemenang ada si patah hati. Seperti halnya kisah romantis Marc
Anthony dan Cleopatra dibangun diatas keping-kepingan hati dan
keruntuhan kekuasaan Julius Caesar yang juga mencintai Cleopatra.
Seperti halnya kawan yang pernah mengatakan kepada saya "Ayat-ayat
cinta cuman cocok buat orang yang mau nikah, bukan buat orang yang lagi
patah hati". Manusiawi, punya kelebihan dan kekurangan sekaligus.

Entahlah,
saya pun masih belajar untuk semuanya di universitas kehidupan. Maka
saat kita berbicara mengenai cinta, mengenai harapan, syair-syair
Cinta, pandanglah dengan jernih. Dia impian idealita di satu sisi, dan
kepastian untuk kehilangan di sisi lain. Namun tidak akan rugi orang
yang menempatkan cintanya pada sesuatu yang Maha Tinggi, dia yang
menganugerahkan cinta untuk dikenal oleh manusia.

Tempatkan cinta di tempat yang benar, di sisi Allah, SWT.    Dan…….bacalah apapun yang bermanfaat . Reader    today, leader tomorrow.

Salam.

- Nobody is perfect
- I am    nobody

Rizki Ramadhani
Taipei,    Taiwan
15 Februari 2008

Pesan “cinta” apa di “Ayat-ayat Cinta” ???

Tuesday, February 12th, 2008

Sekedar komentar mengenai film "Ayat-ayat Cinta" karya Hanung Bramantiyo.

"Inikah
film yang diangkat dari novel Ayat-ayat Cinta itu ?". Mungkin inilah
pertanyaan di kepala saya selepas menyaksikan film Ayat-ayat Cinta.
Sudah tidak terhitung kawan-kawan yang nyeletuk soal ini, sampai
menunggu kapan film ini dirilis. Menarik, mungkin karena filmnya adalah
film yang diangkat dari salah satu novel Islami terlaris karangan
Habiburrahman El Shirazy, dengan isi yang penuh penghayatan terhadap
cinta dan cukup mengharu biru, dengan dibungkus latar kisah anak
manusia di negeri Mesir.

Pantas saja orang kemudian
bertanya-tanya apa jadinya jika novel yang penuh nilai-nilai spiritual
seperti ini kemudian diangkat kedalam film. "Cinta" seperti apa yang
kemudian dibicarakan, sementara tafsir cinta sendiri begitu banyak
dibicarakan dalam berbagai karya-karya Islam, tidak hanya dalam novel
Ayat-ayat Cinta yang menjadi sumber film ini ?

Sebagai muslim,
saya meyakini bahwa cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya. Dan cinta-cinta yang lain bersumber dari cinta tertinggi
ini. Sayangnya cinta hampir selalu diidentikkan dengan nuansa "merah
jambu", kisah kasih dua muda-mudi yang merasa dunia menjadi milik
berdua. Maka "cinta" pun terjebak saat akan digambarkan. Seperti apa
esensi cinta yang terlukis ?? Dia bisa jadi agung dan mengharu biru di
satu sisi, namun kemudian berubah menjadi picisan di sisi lain.

Film "Ayat-ayat Cinta" ini pun masih terjebak dalam problema yang sama. Tokohnya memang sama persis. Masih ada Fahri, mahasiswa Indonesia
yang kuliah di Al-Azhar Mesir dengan sifatnya yang sederhana, taat
beribadah, dan senang membantu, Maria Ghirghis seorang Kristen Koptik
yang tinggal di lantai atas flat milik Fahri dan memendam cinta pada
Fahri, dan Aisha sang gadis Jerman keturunan Turki yang kaya raya namun
bersahaja. Ditambah juga tokoh-tokoh lain seperti Noura, Syaiful,
Nurul, dan lainnya.

Alur pun secara umum masih sama, walaupun
dengan penyesuaian dan pemotongan di sana sini. Sayangnya titik berat
film ini lebih banyak pada masalah Fahri di pengadilan. Sedangkan awal
film yang semestinya bisa memberi penggambaran tentang proses
pernikahan yang baik dan bagaimana pertimbangan Fahri dalam memilih
pasangan sebagai contoh seorang pemuda yang ingin menikah banyak tidak
tergambar utuh, sehingga yang tampak malah seorang Fahri yang diburu
gadis-gadis. Lengkap dengan surat cintanya masing-masing. Porsi tentang
muhasabah menuju jenjang pernikahan yang semestinya bisa menjadi
penyampaian pesan "Ayat-ayat Cinta" justru tidak tergambar baik.

Dengan
bersumber pada sebuah novel yang bernafaskan nilai-nilai keislaman,
"Ayat-ayat Cinta" pun sebaiknya ditampilkan dengan hati-hati. Sudah
semestinyalah adegan-adegan yang "berlebihan" seperti (maaf) adegan
berciuman tidak perlu ditampilkan di film "Ayat-ayat Cinta" ini, agar
tidak menimbulkan bias pada pesan cinta yang ditampilkan. Bukunya pun
tidak pernah sampai menuliskan peristiwa berciuman seperti yang
ditampilkan di film.

Walaupun demikian, film ini bukannya tanpa
bagian yang menarik. Adegan 20 menit terakhir film ini mungkin akan
menjadi pertentangan antara mereka yang pro dan anti poligami. Bukan
apa-apa, adegan Fahri yang kemudian beristri dua dengan Aisha dan Maria
ini digambarkan dengan jelas lengkap dengan seluk beluk
permasalahannya. Entah apakah ini improvisasi sang sutradara. Karena di
bukunya, walaupun Fahri menikahi Maria, pernikahan itu begitu singkat
dikarenakan penyakit Maria yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi
sampai akhirnya meninggal. Tapi ayat-ayat Cinta versi layar lebar
justru memperpanjang kisah pernikahan yang kedua ini, menimbulkan beda
yang besar dengan yang ada di buku, dan alur yang bias walaupun tetap
dengan ending sebuah kematian. Saya sedang tidak membahas tentang
poligaminya, tapi penonton bisa menyimpulkan sendiri nanti setelah
menyaksikan film ini.

Saya pribadi berpendapat sebaiknya
"Ayat-ayat Cinta" tak perlu difilmkan. Biarkan dia tetap di buku dan
interpretasinya diserahkan kepada masing-masing orang yang membaca.
Pesan dan penghayatan akan cinta kepada manusia atas dasar cinta kepada
Yang Maha Kuasa lebih tercapai, ketimbang berusaha menampilkannya dalam
bentuk yang setengah-setengah sehingga penonton akan bingung apakah dia
menyaksikan sebuah film bertemakan Islam dengan pesan cinta ataukah
malah sebuah film remaja.

Saya juga berharap film ayat-ayat
Cinta ini pun memang digarap sebelumnya secara profesional. Karena
begitu banyaknya film-film atau sinetron-sinetron Indonesia
yang dicap plagiat dengan banyak menyadur unsur-unsur dari film
lain.Film "Ayat-ayat Cinta" pun sama. Musik latar yang dipakai pada
adegan pernikahan Fahri dan Aisha yang penuh kegembiraan jelas-jelas
diambil dari musik latar film Taegukgi
dari Korea Selatan, yang ironisnya justru menceritakan tentang perang
Korea yang tragis. Musik latar ini pun begitu sering dipakai dalam
berbagai adegan dalam film Ayat-ayat Cinta. Entah apakah Hanung
Bramantiyo sebagai sutradara sudah mendapatkan izin untuk menggunakan
lagu ini dalam filmnya. Ada juga musik-musik latar yang saya rasa
diambil dari film lain, tapi saya kurang tahu jelas. Saya harapkan sih
minimal memang sudah ada izin, karena sungguh memalukan kalau sekali
lagi film Indonesia masih meneruskan budaya "plagiarisme" -nya.

Semoga
film "Ayat-ayat Cinta" juga tidak menimbulkan kesan cinta muda-mudi
yang berlebihan. Apalagi saya pernah mendengar kabar bahwa film ini
akan dirilis pada tanggal 14 Februari nanti yang justru bertepatan
dengan Valentine’s Day. Akan begitu  aneh jika itu terjadi sedangkan film ini justru diangkat dari sebuah novel yang menggunakan nilai-nilai Islami.

Rizki Ramadhani
Taipei, Taiwan

13 Februari 2008