Pesan “cinta” apa di “Ayat-ayat Cinta” ???

Sekedar komentar mengenai film "Ayat-ayat Cinta" karya Hanung Bramantiyo.

"Inikah
film yang diangkat dari novel Ayat-ayat Cinta itu ?". Mungkin inilah
pertanyaan di kepala saya selepas menyaksikan film Ayat-ayat Cinta.
Sudah tidak terhitung kawan-kawan yang nyeletuk soal ini, sampai
menunggu kapan film ini dirilis. Menarik, mungkin karena filmnya adalah
film yang diangkat dari salah satu novel Islami terlaris karangan
Habiburrahman El Shirazy, dengan isi yang penuh penghayatan terhadap
cinta dan cukup mengharu biru, dengan dibungkus latar kisah anak
manusia di negeri Mesir.

Pantas saja orang kemudian
bertanya-tanya apa jadinya jika novel yang penuh nilai-nilai spiritual
seperti ini kemudian diangkat kedalam film. "Cinta" seperti apa yang
kemudian dibicarakan, sementara tafsir cinta sendiri begitu banyak
dibicarakan dalam berbagai karya-karya Islam, tidak hanya dalam novel
Ayat-ayat Cinta yang menjadi sumber film ini ?

Sebagai muslim,
saya meyakini bahwa cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya. Dan cinta-cinta yang lain bersumber dari cinta tertinggi
ini. Sayangnya cinta hampir selalu diidentikkan dengan nuansa "merah
jambu", kisah kasih dua muda-mudi yang merasa dunia menjadi milik
berdua. Maka "cinta" pun terjebak saat akan digambarkan. Seperti apa
esensi cinta yang terlukis ?? Dia bisa jadi agung dan mengharu biru di
satu sisi, namun kemudian berubah menjadi picisan di sisi lain.

Film "Ayat-ayat Cinta" ini pun masih terjebak dalam problema yang sama. Tokohnya memang sama persis. Masih ada Fahri, mahasiswa Indonesia
yang kuliah di Al-Azhar Mesir dengan sifatnya yang sederhana, taat
beribadah, dan senang membantu, Maria Ghirghis seorang Kristen Koptik
yang tinggal di lantai atas flat milik Fahri dan memendam cinta pada
Fahri, dan Aisha sang gadis Jerman keturunan Turki yang kaya raya namun
bersahaja. Ditambah juga tokoh-tokoh lain seperti Noura, Syaiful,
Nurul, dan lainnya.

Alur pun secara umum masih sama, walaupun
dengan penyesuaian dan pemotongan di sana sini. Sayangnya titik berat
film ini lebih banyak pada masalah Fahri di pengadilan. Sedangkan awal
film yang semestinya bisa memberi penggambaran tentang proses
pernikahan yang baik dan bagaimana pertimbangan Fahri dalam memilih
pasangan sebagai contoh seorang pemuda yang ingin menikah banyak tidak
tergambar utuh, sehingga yang tampak malah seorang Fahri yang diburu
gadis-gadis. Lengkap dengan surat cintanya masing-masing. Porsi tentang
muhasabah menuju jenjang pernikahan yang semestinya bisa menjadi
penyampaian pesan "Ayat-ayat Cinta" justru tidak tergambar baik.

Dengan
bersumber pada sebuah novel yang bernafaskan nilai-nilai keislaman,
"Ayat-ayat Cinta" pun sebaiknya ditampilkan dengan hati-hati. Sudah
semestinyalah adegan-adegan yang "berlebihan" seperti (maaf) adegan
berciuman tidak perlu ditampilkan di film "Ayat-ayat Cinta" ini, agar
tidak menimbulkan bias pada pesan cinta yang ditampilkan. Bukunya pun
tidak pernah sampai menuliskan peristiwa berciuman seperti yang
ditampilkan di film.

Walaupun demikian, film ini bukannya tanpa
bagian yang menarik. Adegan 20 menit terakhir film ini mungkin akan
menjadi pertentangan antara mereka yang pro dan anti poligami. Bukan
apa-apa, adegan Fahri yang kemudian beristri dua dengan Aisha dan Maria
ini digambarkan dengan jelas lengkap dengan seluk beluk
permasalahannya. Entah apakah ini improvisasi sang sutradara. Karena di
bukunya, walaupun Fahri menikahi Maria, pernikahan itu begitu singkat
dikarenakan penyakit Maria yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi
sampai akhirnya meninggal. Tapi ayat-ayat Cinta versi layar lebar
justru memperpanjang kisah pernikahan yang kedua ini, menimbulkan beda
yang besar dengan yang ada di buku, dan alur yang bias walaupun tetap
dengan ending sebuah kematian. Saya sedang tidak membahas tentang
poligaminya, tapi penonton bisa menyimpulkan sendiri nanti setelah
menyaksikan film ini.

Saya pribadi berpendapat sebaiknya
"Ayat-ayat Cinta" tak perlu difilmkan. Biarkan dia tetap di buku dan
interpretasinya diserahkan kepada masing-masing orang yang membaca.
Pesan dan penghayatan akan cinta kepada manusia atas dasar cinta kepada
Yang Maha Kuasa lebih tercapai, ketimbang berusaha menampilkannya dalam
bentuk yang setengah-setengah sehingga penonton akan bingung apakah dia
menyaksikan sebuah film bertemakan Islam dengan pesan cinta ataukah
malah sebuah film remaja.

Saya juga berharap film ayat-ayat
Cinta ini pun memang digarap sebelumnya secara profesional. Karena
begitu banyaknya film-film atau sinetron-sinetron Indonesia
yang dicap plagiat dengan banyak menyadur unsur-unsur dari film
lain.Film "Ayat-ayat Cinta" pun sama. Musik latar yang dipakai pada
adegan pernikahan Fahri dan Aisha yang penuh kegembiraan jelas-jelas
diambil dari musik latar film Taegukgi
dari Korea Selatan, yang ironisnya justru menceritakan tentang perang
Korea yang tragis. Musik latar ini pun begitu sering dipakai dalam
berbagai adegan dalam film Ayat-ayat Cinta. Entah apakah Hanung
Bramantiyo sebagai sutradara sudah mendapatkan izin untuk menggunakan
lagu ini dalam filmnya. Ada juga musik-musik latar yang saya rasa
diambil dari film lain, tapi saya kurang tahu jelas. Saya harapkan sih
minimal memang sudah ada izin, karena sungguh memalukan kalau sekali
lagi film Indonesia masih meneruskan budaya "plagiarisme" -nya.

Semoga
film "Ayat-ayat Cinta" juga tidak menimbulkan kesan cinta muda-mudi
yang berlebihan. Apalagi saya pernah mendengar kabar bahwa film ini
akan dirilis pada tanggal 14 Februari nanti yang justru bertepatan
dengan Valentine’s Day. Akan begitu  aneh jika itu terjadi sedangkan film ini justru diangkat dari sebuah novel yang menggunakan nilai-nilai Islami.

Rizki Ramadhani
Taipei, Taiwan

13 Februari 2008

Leave a Reply