The Scattered & Shame

October 24th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 25 Oktober 2007. Tengah malam. GIPO Laboratory, NTU.

Akhirnya ada kesempatan untuk bermuhasabah lagi. Dan kali ini aku ingin membicarakan tentang masa lalu, untuk kesekian kalinya dan (Ya Allah tolonglah…..) untuk terakhir kalinya.

Mengapa masa lalu ? Masalahku sebenarnya hanyalah sepenggal sel saraf di otak yang berfungsi menyimpan memori yang sudah lewat, namun disitulah letak masalahnya. Setiap kenangan yang lalu akan teringat terus, dan aku gak mengerti mengapa kenangan terkuat yang selalu timbul adalah 5,5 tahun di UI ????

Masa lalu, kenapa masa lalu ? Russel Crowe yang berperan dalam John Forbes Nash di film "A Beautiful Mind" mengatakan, masa lalu akan terus menghantui kita. Bahkan Imam Al Ghazali pun punya kata - kata mutiara mengenai masa lalu, "masa lalu adalah hal yang paling jauh dari diri kita yang tidak akan mungkin kembali". Tapi Al Ghazali nampaknya lupa, bahwa sesuatu yang paling jauh itu memang tidak bisa kita ubah tapi akan selalu menghantui kita.

Ah….entah kenapa dalam beberapa waktuku aku masih sulit melupakan masa laluku, di tengah indahnya Taipei.

Aku menulis blog ini karena kuliah yang sedang kuhadapi. Ada satu mata kuliah yang membutuhkan keterampilan pemrograman. Dan rupanya, aku sudah lupa sama sekali. Padahal itu sudah pernah kupelajari. Yang lebih bikin aku malu, kawan-kawan disini rata-rata benar-benar menguasai keterampilan pemrograman itu.

Aku malu. Kupikir aku tidak siap untuk kuliah master. Tapi aku sudah disini. Dan pantang bagi prajurit untuk mundur di tengah perang. Sejak dulu, saat aku merasa sudah kehilangan keyakinan, aku sudah ikhlaskan nyawaku. Aku sudah siap mati. Jadi disini pun sama, Master atau mati !!! Itu pilihannya.

Tapi tetap saja semua memaksaku berpikir kembali, tentang apa yang sudah kupelajari dahulu. Total setelah kuhitung kembali, rupanya paling cuman 17 mata kuliah S1-ku yang berkaitan dengan kuliah disini. 17 mata kuliah yang tidak lebih dari satu semester bisa kuambil, dan itu malah memakan 5,5 tahun.

Aku bisa memetik banyak pelajaran dari situ. Tapi sayangnya buruk. Fakta bahwa aku tidak memahami kuliahku, dan sedikitnya materi yang relevan hanya mengungkakan beberapa hal : 1. Aku tidak serius mengatur kuliahku dahulu, 2. Aku tidak mengarahkan kuliahku dengan baik, 3. Belajar hanyalah formalitas mendapatkan nilai bagiku, 4. Aku tidak mengerti apa yang kupelajari namun membanggakan ilmuku yang semu. Sampah. Dan kenapa aku tidak bisa melakukannya ? Apakah mungkin karena aku tidak bisa mengatur aktivitasku dengan kuliahku dulu, hal yang membuatku selalu mengambil 24 sks sejak semester 3 sampai semester 9 ?

Aku bingung apakah aku menyesal atau tidak. 5,5 tahun sia-sia di bangku kuliah untuk persiapan berikutnya. Dan aktivitas kemahasiswaan, jujur aku tidak menyesal ikut. Yang aku sesali adalah aku tahu semuanya, semua kenyataan buruk dari semua yang aku ikuti. Aku sudah kehilangan keyakinan sejak 2 tahun yang lalu. Keyakinan tentang baik dan buruk, hitam dan putih, semua lenyap.

Aku matian-matian untuk fokus di aktivitas yang kemudian membuat pikiranku jungkir balik kacau balau, dan aku korbankan profesionalitas ilmu, dua-duanya hanya dapat hasil yang minim. Matang sih iya, tapi seburuk - buruk jalan untuk menjadi matang. Matang dengan cara mengenal sisi gelap dirimu dan sisi gelap dunia.

Ah…Tuhan kenapa begitu takdir yang ada ? Aku berantakan dan malu. Scattered and shame.

Selalu dan selalu, aku harus merapihkan di akhir. Tapi kali ini untuk terakhir kalinya, ya terakhir kalinya. Merapihkan hidupku untuk terakhir kalinya.

Itulah mengapa aku membiarkan semua arsip masa laluku hilang, lenyap, tak berbekas. Biar lupa. Buku, arsip, file, transkrip, memory, biarlah semuanya hilang. Termasuk aktivitasku. Ya aku akan tegas untuk itu. Keluar dari tarbiyah, membersihkan semua curriculum vitae yang gak jelas, semua harus kulakukan.

Maka mohon maafkan aku kawan-kawanku. Jika nantinya kelak aku harus melupakan kalian. Aku ingin menjadi malaikat, tapi masa laluku hanya membuatku jadi setan.

Andai aku bisa membalik masa lalu. Tapi itu tidak bisa. Aku ingin amnesia, tapi ada segelintir memori indah yang tak bisa kulupakan dari lumpur masa lalu. Maka kau hanya bisa seperti ini, melupakan yang harus dilupakan, mengenang yang harus dikenang. Bukan muka batu, bukan pula kepala batu, tapi otak batu.

Maaf masa laluku. Aku harus tegas mengusirmu, dan memperbaiki semuanya di titik ini. Maaf….

-Rizki-

Taichung, taichung

October 20th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 21 Oktober 2007

Jalan - jalan, jalan - jalan, dan jalan - jalan. Apalagi yang harus dilakukan kalau waktu senggang di luar negeri, tentu saja jalan - jalan……

Kemarin rombongan mahasiswa internasional NTU mengadakan Day Trip ke Taichung, di bagian tengah dari Taiwan. Dua jam perjalanan sih, cukup jauh walaupun Taiwan adalah pulau kecil yang bahkan tidak lebih besar dari Jawa Barat.

Kami melakukan bike trail alias perjalanan santai naik sepeda di jalur bike trail di Taichung, terus makan siang, mengunjungi museum kayu di Taichung dan ditutup dengan melukis bebek kayu.

Taichung berasal dari dua kata. Tai dan Chung atau Zhong dalam tulisan aslinya. Tai berarti fondasi atau panggung, sedangkan chung berarti tengah. Jadi kota Taichung bisa diartikan fondasi tengah. Dalam bahasa Cina, empat arah mata angin adalah bei (utara), nan (selatan), dong (timur), dan xi (barat), dan pusat semuanya adalah zhong (tengah). Kebetulan Taiwan punya semua kota di arah mata angin ini, kecuali barat. Taizhong atau Taichung terletak di tengah dari Taiwan. Kota fondasi selatan, Tainan,  berlokasi di sebelah selatan dekat Kaohsiung. Kota fondasi timur ada di Taitung, penyebutan pinyin dari nama aslinya Taidong. Dan fondasi di utara, apalagi kalau bukan Taipei atau Taibei dalam sebutan aslinya.

Taichung cukup sejuk, berlokasi di tengah dan terletak di daerah perbukitan dan hutan yang cukup lebat. Daerah bike trail kami adalah daerah wisata alam yang menawarkan pemandangan gunung dan desa. Jalur bike trailnya memang khusus untuk sepeda, jadi mobil atau motor dilarang masuk. Kita bisa melihat daerah sawah, perbukitan Taichung, daerah kuburan Cina yang unik dan juga jalur kereta api yang sudah lama tidak terpakai. Mungkin peninggalan Jepang saat menjajah Taiwan dulu. It’s very nice.

Kita makan siang di sebuah restoran di Taichung, cuman hati - hati. Soalnya daging babi juga ikut disajikan disana. Coba makan seafood atau sayuran saja, dan untuk membedakan kita harus bilang "wo bu yao zhu rou" biar pelayannya ngerti.

Setelah itu kita ke museum ukiran kayu Taichung sekaligus daerah kerajinan tangan khas Taichung. Di Taichung, hutan masih sangat terjaga dan banyak sekali pohon kayu. Sehingga banyak sekali ukiran kayu yang dibuat. Sebuah museum dibuatkan khusus untuk memamerkan ukiran kayu disana, dan kita bisa melihat banyak ukiran kayu dan perkembangan seni ukir dan pahat di Taichung dan Taiwan disana. Pahatannya bagus dan unik sekali. Aku beli satu gantungan kunci kayu ukir berbentuk pulau Taiwan, plus satu ukiran palu sidang berukuran mini. Ah.. aku gak bisa melepaskan diri dari kehidupan legislatifku. Lagipula, palu sidang adalah lambang keadilan sejati dan keadilan tanpa memandang diskriminasi ha…ha….

Sorenya, kita melukis bebek kayu di Taichung. Ada sebuah pabrik bebek kayu yang terkenal di Taichung. Pabrik ini sebenarnya pabrik barang - barang ukiran kayu, tidak hanya bebek yang mereka ukir. Ada burung, monyet, sapi, de el el. Ukirannya sendiri cukup terkenal dan sampai diekspor keluar Taiwan. Kebetulan yang paling terkenal dari sini adalah bebek kayu, mu ya dalam bahasa Cina. Makanya orang lebih banyak mengenal bebek kayu dari pabrik ini.

Kita melukis sendiri bebek kayu kita. Cuman sayang, kayangnya aku kurang memiliki cita rasa seni nih. Bebekku kelihatan jelek ha…..ha……

Ah, pengalaman yang indah di Taichung. Entah kapan terulang lagi. Semoga bisa jalan - jalan lagi.

Lebaran di Taipei

October 20th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 21 Oktober 2007

Apa kabar blog, lama gak dikunjungi lagi. Terus terang kuliah padat banget jadinya maaf jika tidak mengisi akhir - akhir ini.

Oya, aku belum ceritain kan tentang lebaran di Taipei ?? Ok, kesempatan deh nih. Kita lebarannya di Taipei hari Jumat, jadi tanggal 13 Oktober yang lalu. Pengumumannya sendiri baru didapat hari jumat diniharinya. Kebetulan di seluruh Taiwan, sholat Ied langsung mengikuti jadwal sholat Ied di Arab Saudi.

Aku masih begadang tengah malam, jadi kebetulan dapat telepon langsung dari teman mengabarkan bahwa kita akan lebaran hari Jumatnya. Sholat Iednya sendiri dilaksanakan sekitar jam 8 pagi, untuk memberi kesempatan bagi yang belum tahu bahwa hari Jumat lebaran untuk bersiap - siap.

So, paginya semuaya pada berangkat ke Masjid Raya Taipei di Daan. Orang Taiwan rata - rata beragama Buddha atau Konghucu, sedikit sekali yang beragama Islam sehingga nuansa lebaran gak terlalu meriah disini. Walaupun demikian pada saat di Masjd Raya, orang - orang banyak sekali yang berdatangan. Ada dari Arab Saudi, ada dari Malaysia, ada dari Nigeria, Iran, Kazakhstan, Turki, Yordania, Taiwan sendiri, dan tentu saja Indonesia. Penuh sekali, dan suasana sholat Ied pun berlangsung khidmat dan khusyuk, mungkin ceramahnya yang dibacakan dalam bahasa Mandarin saja yang bikin pusing.

Selesai sholat jumat, dapur umum gratis dah menunggu. Ada pembagian buah - buahan, minuman, dan makanan kecil bagi para jamaah. Disitulah kami bersalam - salaman, dan bermaaf - maafan dengan saudara - saudara muslim yang lain. Sangat khidmat.

Mungkin sampai disitu aja. Soalnya hari lebaran bukanlah hari libur di Taiwan. Jadi setelah sholat Ied, semuanya pada melanjutkan aktivitas sehari - hari. Yang kerja ya kerja, yang kuliah ya kuliah. Untungnya waktu kerja di Taiwan mulai dari pukul 9 pagi sampai 5 sore, jadi tidak terlambat.

Waduh gak keren banget ya, saat orang - orang di Indonesia pada libur dan berkunjung ke sanak famili, kita malah kerja atau kuliah. Untung aku gak ada kuliah hari Jumat, Rocky dan Jaya ada tapi. Kan gak lucu pas ditanyain "ngapain pas lebaran?", jawabnya lagi kuliah ha..ha….ha…..

Ah lebaran di Taipei, benar - benar tak terlupakan. Alhamdulillah aku masih diberi pengalaman seperti ini.

- Ma Fu Yue -

Are you a Moslem from Indonesia ?

October 17th, 2007 by brigjen-sorong

"Are you a moslem, from Indonesia ?"

Pertanyaan
sederhana, tapi apa yang harus saya jawab jika misalnya pertanyaan itu
diajukan oleh orang Spanyol, Inggris, atau orang Taiwan ?

Pertanyaan yang berat, karena harus menyatukan dua hal yang perlu dijelaskan secara baik dan benar. Moslem & Indonesia.

Sepertinya
dua kata ini mungkin punya nuansa buruk, atau memang ketidak tahuan
orang - orang selama ini tentang Islam dan pengaruh berita barat yang
memojokkan Islam membuat begitu banyak pertanyaan berikutnya muncul.

"Are
all moslem like to bomb places ?", "Is your religion taught about
violence ?", "What is Islam actually ?", "Isn’t a moslem that bombs Bali ?"

Bertubi
- tubi, dan saya tentu saja bingung menjelaskan semuanya. Darimana
harus menjelaskan, seperti apa harus menjelaskan. Tentu tidak mungkin
kalau memakai pengalaman saya pribadi. Benturan pemikiran ala beberapa
aliran Islam, serta beberapa catatan hitam yang saya tahu hanya membuat
saya subyektif dalam menjelaskan kepada mereka yang belum tahu tentang
Islam. Lagipula saya juga takut akan blak - blakan ntuk mengungkapkan
beberapa hal mengenai pengalaman saya dalam pergerakan di mahasiswa
dulu, dan saya tidak menahan jika harus menjelaskan hal itu. Akan
kontraproduktif, dan hanya menambah masalah. Lagipula saya sedang
berusaha melupakan semuanya disini. Jadi sudahlah.

Tapi
setiap mahasiswa internasional, setiap mahasiswa muslim akan berhadapan
dengan kondisi yang sama setiap ada pertanyaan yang serupa.

Jadilah
saya berusaha menjelaskan hal - hal dasar semampu ilmu saya.
Menjelaskan terlalu tinggi mungkin mereka tak akan mengerti. Islam
adalah agama perdamaian. Bahwa Islam pun mengajarkan kasih sayang,
cinta terhadap sesama. Apa yang ditunjukkan oleh media barat adalah
tidak seimbang, karena mereka menyorot hal - hal yang negatif saja.
Lagipula kekerasan seperti yang dilakukan oleh orang - orang yang
mengatasnamakan Islam tidaklah bisa dijadikan alasan untuk
menggeneralisasi seluruhnya. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan,
mungkin merekalah yang salah mengartikannya. Dan kita mengenal konsep
persaudaraan dalam Islam.

Sampai
di situ dan beberapa diskusi panjang lebar lagi menyudahi percakapan
tadi. Saya pikir sang mahasiswa asing yang menanyakan kepada saya sudah
cukup puas. Saya hanya berharap semoga saya tidak salah memberi
penjelasan.

Saya tertegun mengingat peristiwa ini tadi, makanya
saya menulis pengalaman ini. Ya, begitu banyak pertanyaan tentang
Islam, khususnya Islam di Indonesia. Yang mereka lihat di dalam negeri
kita, akan menjadi pertanyaan besar yang kemudian harus kita jelaskan
nanti. Saya tidak menyalahkan mereka memiliki anggapan bahwa Islam itu
negatif, karena mungkin mereka belum tahu.

Yang bikin saya
kemudian tertegun adalah, bagaimana kita menjelaskan pertanyaan mereka
itu. Menjelaskan dalam dua sisi dengan dua masalah berbeda.

Pertama,
seperti apakah kita menjelaskan. Apakah saat dia bertanya pada muslim
yang satu, dia juga akan mendapatkan jawaban yang sama dengan muslim
yang lain ?? Bagaimana jika dia mendapatkan dua jawaban yang
bertentangan. Kedua, dan yang paling penting, setelah saya menjelaskan
pertanyaan dia tentang Islam tadi, akankah kemudian dia bisa melihat
tindakan nyata yang bisa meyakinkan dia untuk melihat sisi positif
Islam. Dan, semoga saja, kemudian mendorong dia untuk mendapat hidayah
memeluk Islam.

Saat ini gambar umat Islam yang sholat jamaah di Masjidil Haram bersaing dengan penyanderaan taliban
atau bom bunuh diri kelompok Islam tertentu di Eropa. Liputan tentang
semarak dan hangat hari raya Idul Fitri bersaing dengan kekerasan yang
mengatas namakan Islam di berbagai tempat termasuk di Indonesia.

Di
luar negeri, tidak peduli aliran kita, tidak peduli apakah kita pribadi
yang mengaku muslim mengerti atau tidak tentang agama kita sendiri,
pertanyaan aka mengemuka selepas kita memperkenalkan diri : "I’m a
moslem".

Dan kita dituntut
untuk bisa menjelaskannya. Pertanyaan sederhana yang mungkin mengandung
ribuan makna. Saya yakin sekali, diluar sana, puluhan mahasiswa muslim Indonesia mungkin pula mahasiswa muslim yang lain juga mengalami hal yang serupa.

Saya
hanya berharap saya tidak salah menjelaskan dengan ilmu saya yang masih
sempit ini. Dan semoga trauma saya di pergerakan tidak terlalu
mempengaruhinya. Ah…..saya masih berusaha melupakan hal itu.

- Catatan pinggir : Taipei, 17 Oktober 2007 -

Selamat Idul Fitri dari Taipei

October 12th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 1 Syawal 1428 H

Di Taipei, tak ada takbiran. Tapi ada dzikir dalam tenang

Di Taipei, Idul Fitri datang bagai gerimis musim dingin. Sederhana, tapi menyejukkan

Di Taipei,
tidak ada debat tentang kapan kami harus lebaran. Tak ada ribut hari
ini atau hari itu, pagi ini atau pagi itu, karena kemuliaan Ied terlalu
berharga untuk dirusak dengan amarah begitu cepatnya.

Di Taipei, tak ada beda madzhab hambali, maliki, syafei, atau hanafi

Di Taipei, tak ada benturan karena kami sunni, syiah, tsalaf, ikhwan, ahmadi, tablighi, nahdyillin, atau muhammadiyyin

Di Taipei, sama saja antara orang Pakistan, Kazakhstan, Turki, Yordania, Malaysia, China, Nigeria, atau Indonesia

Di Taipei, semua bertakbir sama Allahu Akbar di hari Ied Mubarak

Di Taipei,
tersisa hangat pelukan persahabatan di depan masjid raya. Disertai
tangis, senyum, canda, tawa, dan kerinduan para musafir akan saudara
seimannya yang entah kapan akan bertemu lagi.

Di Taipei, hari ini.
Idul Fitri menyapa sesudah Ramadhan. Hangatnya untuk semua, berkahnya untuk semua.

Dalam
takbir yang sama, dalam ruku’ yang sama, dalam sujud yang sama. Semua
menunduk akan kebesaran yang maha kuasa, yang memberi kemenangan
sesudah sebulan berpuasa.

Di Taipei,
hanya ada satu jenis manusia yang merayakan Idul Fitri hari ini,
seperti halnya di seluruh dunia. Mereka bernama….. ……… .kaum
muslimin.

Semoga berkah Idul Fitri 1428 H selalu bersama kita. Mohon maaf lahir dan batin.

- Ma Fu Yue -
- Optoelectronics Engineering -
- College of Electrical Engineering & Computer Science -
- National Taiwan University -
- Taipei City, Taiwan -

Beckenbauer di 2006

October 10th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 10 Oktober 2007

Aku melihat - lihat kembali arsip sepakbola, tepatnya piala dunia 2006 di Jerman kemarin. Sebuah keajaiban. Aku pegang Italia, pasti itu. Tapi bukan itu yang aku pikirkan.

Aku pikirkan mengenai Franz Beckenbauer. Sang Kaisar. Legenda hidup sepakbola Jerman. Dialah satu-satunya orang Eropa yang mendapat gelar juara dunia baik sebagai pemain maupun pelatih. Di Jerman 1974, dia menjungkir balikkan pandangan para pengamat yang menjagokan total football Belanda sebagai juara. Dia menjadi kapten Jerman saat memenangkan gelar juara dunianya yang kedua setelah merebut gelar eropa di Belgia setahun sebelumnya. Dia kembali sebagai pelatih tahun 1986. Di Mexico, dia hadir di final walaupun anak emas Argentina bernama Diego Maradona membuat dia tidak bisa membawa pulang gelar piala dunia.

Tapi hanya butuh setahun untuk melakukan pembalasan. Di Roma tahun 1990, Jerman bertemu lawan yang sama. Argentina. Dan Pembalasan hadir. Sebuah gol penalti di 5 menit terakhir pertandingan menamatkan perlawanan Argentina. Beckenbauer kembali sukses sebagai pelatih. Di stadion Olimpico Roma, dialah yang berdiri bak kaisar Roma di Koloseum. Beckenbauer, der kaizer, orang yang sukses di piala dunia sebagai pelatih maupun pemain. Di tanah Italia, dia dapatkan gelarnya.

Piala dunia akhirnya kembali ke kampung halaman Beckenbauer. Jerman 2006. Dia bukan pemain, dia bukan pula pelatih. Dia ketua panitia, penonton. Dan tentunya dia ingin menikmati gelar yang sama dengan statusnya sebagai penonton itu. Italia mungkin sudah jadi takdir bagi Beckenbauer. Dia pasti ada di sana, di Dortmund, tanggal 4 Juli 2006. Menyaksikan tim yang pernah dia pimpin melawan negeri tempat dia dinobatkan sebagai kaisar sepakbola. Setengah mencibir, dia menyinggung skandal sepakbola Italia saat itu yang menurut dia membuat Italia  tidak pantas jado juara dunia.

Ya….ya pasti dia menyaksikan pertendingan Jerman - Italia itu sampai akhir. Dan mungkin Beckenbauer lupa, tim yang sama, dalam kondisi yang sama, diterpa skandal, dan datang dalam keadaan malu, membekap Jerman di kota Madrid saat final piala dunia 1982. Dan kejadian yang sama terulang, 2 menit terakhir, Italia menutup cerita Jerman di piala dunia, di tanah mereka sendiri. Apa kiranya yang ada di pikiran Beckenbauer, saat melihat negeri tempat dia dulu dinobatkan sebagai kaisar, sekarang berbalik merampok gelar dunia di tanahnya sendiri ???

Italia, negeri sepakbola yang selalu dipandang sebelah mata, disaksikan dengan penuh rasa bosan. Orang heran mungkin dengan permainan kuno penuh pertahanan yang bikin mengantuk jika disaksikan. Cuman mereka tak akan pernah lupa, permainan membosankan ala Italia itu menghasilkan 4 gelar juara dunia. Dengan terakhir kali melawan takdir mereka sendiri.

Ya takdir. Takdir bernama kotak penalti. Kotak penaltilah tempat eksekusi Italia selama piala dunia berlangsung. Tidak pernah Azzuri keluar dengan selamat jika pertandingan sudah ditentukan di ajang adu penalti. Di Paris eksekutornya bernama Perancis, di Pasadena eksekutornya bernama Brazil. Azzuri bahkan tidak bisa menaklukkan kotak penalti di kandang mereka sendiri. Di Napoli, saat piala dunia berlangsung di Italia tahun 1990, Argentina bikin Italia menangis di kandang.

Dan di Berlin, mereka berhadapan dengan lawan yang pernah mengeksekusi mereka di kotak penalti. Perancis yang mengalahkan Italia lewat adu penalti di piala dunia 1998. Perancis pula yang bikin Italia patah hati, saat dengan golden goalnya mereka mengalahkan Italia di final Euro 2000. Dan sekarang Perancis punya kesempatan emas, mengeksekusi Italia sekali lagi di tempat pelaksanaan hukuman mati mereka. kotak penalti.

Tapi tidak, tidak. Karena keadilan akan selalu muncul bahkan dalam keadaan yang paling sederhana pun. Di kotak penalti, Berlin tahun 2006. Italia mengalahkan dewa sial mereka. Dan keberentungan yang menaungi Perancis pun lenyap. Revenge is sweet. Balas dendam itu manis. Dan itulah. Italia membayar dendam seluruh penampilan mereka di piala dunia, seluruh kegagalan mereka di adu penalti, dendam kepada Jerman, Perancis, di kotak penalti. Dengan gelar keempat mereka di piala dunia.

Luar biasa. Dan masih aku bertanya, apa kiranya yang ada dalam pikiran Beckenbauer. Saat Italia berbalik merampok piala dunia di tanah Jerman ???

Masih dari Taiwan

October 10th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 10 Oktober 2007

Hari ini perhatinku teralih ke dua hal. Pertama adalah workshop sehari penuh tadi di Condensed Physics Building. Kedua adalah pengumuman nobel bidang kimia tahun 2007.

Workshop fisikanya berjalan sehari penuh. Dalam bahasa Cina yang terus terang sangat menyulitkan. Kupikir aku masih belum berani untuk mencoba berbahasa Cina, walaupun aku sudah sempat les. Ya, masalahnya bukanlah apakah kita ikut les atau tidak. Tapi bisa mengaplikasikannya atau tidak. Aku juga masih terpengaruh dengan pikiran sebaiknya aku ambil bahasa apa sebagai bahasa minorku selain bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang sudah kukuasai. Ah…Rizki. Udah jelas sekarang kamu di Taiwan. Maka jelas pula bahasa apa yang harus kau kuasai kemudian. Bahasa Cina. Belajar bahasa memang sulit. Maka sudah semestinya aku fokus, dan mumpung aku baru 3 minggu di Taiwan dan masih banyak kesempatan untuk pengembangan, maka saatnya fokus untuk menguasai bahasa Cina. Kupikir untuk membantu aku sudah harus menghafal kosakata cina, tata bahasa cina, ngomong bahasa cina di setiap kesempatan, plus cari novel cina. Kayaknya karya Gao Xingjian lumayan sebagai permulaan. Lagian dia kan penerima nobel.

Yang kedua adalah nobel kimia 2007. Aku mengikuti dengan seksama yang satu ini hari ini bahkan setiap aku buka internet aku sempatkan untuk cari. Yang meraihnya rupanya orang Jerman bernama Gerhard Ertl atas penemuan di kimia permukaan. Ah…semoga aku bisa dapat yang sama. Oke saatnya fokus. Harus bisa bahasa dan satsra Cina.

- Ma Fu Yue -

10 Oktober yang libur

October 10th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 10 Oktober 2007

10 Oktober, hari libur nasional di Taiwan, masih puasa. Gak kuliah, senang - senang deh…..hee. …he…Tapi aku ada workshop sehari penuh yang bikin bete, mana workshopnya dalam bahasa Cina lagi hu..hu….Btw penasaran gak kenapa tgl 10 Oktober jadi hari libur di Taiwan.

Tanggal 10 Oktober di Taiwan
dikenal sebagai Double Ten day. Sejarahnya sebenarnya terjadi jauh dari
pulau ini. Tepatnya di Cina daratan sana. Bagi kita yang mengenal Cina
lewat film - film kungfu, mungkin hanya mengenal Cina sebagai sebuah
kekaisaran besar. Namun sedikit yang tahu bagaimana Cina bisa menjadi
Republik dan kemudian terbelah dua menjadi dua yakni Cina daratan dan
Taiwan seperti sekarang.

Di awal abad ke - 20, dinasti yang
memerintah Cina adalah dinasti Qing. Inilah dinasti terakhir imperium
Cina, dengan kaisar terakhirnya bernama Pu Yi. Bagi yang pernah
menonton film The Last Emperor, film inilah yang  menggambarkan hari - hari terakhir kekaisaran Cina dengan kaisar Pu Yi sebagai pemimpinnya.

Cina
di awal abad 20 bukanlah sang naga dari Timur, sebuah kekaisaran yang
ditakuti yang pernah melebarkan sayapnya sampai ke semenanjung asia
tenggara dan perbatasan Arab. Pengaruh imperialisme asing ikut masuk ke
Cina, ditandai dengan dicaploknya beberapa wilayah Cina oleh penjajah
Asing. Tahun 1842, Hong Kong jatuh ke tangan Inggris, dan tahun 1895 Taiwan yang saat itu menjadi bagian kekaisaran Cina dicaplok oleh Jepang. Kekaisaran
Cina juga dipaksa untuk membuka Cina bagi orang kehadiran pedagang dan tentara asing, sehingga akhirnya kota Shanghai
dibuka dan menjadi pelabuhan dan tempat masuk bagi orang asing di Cina.
Kekaisaran Cina dianggap sudah tidak punya wibawa lagi bahkan kemudian
dijuluki The Sick Man of Asia (orang sakit dari Asia)

Cina
yang pernah begitu perkasa menjadi begitu lemah terhadap imperialis
asing. Tak heran banyak orang Cina sendiri yang sudah tidak percaya
lagi dengan kekaisaran. Angin keterbukaan yang berhembus ke Cina pun
membawa semangat baru bagi rakyat Cina, semangat nasionalisme.

Syahdan di kota kecil bernama Wuchang,
yang berlokasi di propinsi Hubei tepat di pinggir sungai Yangtze yang
indah di Cina, ada seorang Cina yang membawa semangat nasionalisme
bernama Sun Yat Sen. Sebenarnya dia adalah seorang dokter lulusan Hong Kong,
tetapi semangat nasionalismenya mendorong dia aktif di politik.
Kebetulan kekaisaran Cina saat itu mendidik tentara - tentara terlatih
yang dipusatkan di kota Wuchang. Tidak sedikit tentara kekaisaran ini
yang kemudian terpengaruh dengan ceramah politik pak dokter Sun Yat Sen.

Saat
itu juga, kota Wuchang menjadi tempat perakitan bom milik Rusia. Suatu
ketika, salah satu bom di kota Wuchang meledak. Peristiwa meledaknya
bom ini kemudian diselidiki oleh tentara kekaisaran. Tetapi bukan
investigasi bom yang mereka lakukan, justru yang didapatkan adalah data
- data rahasia tentang gerakan kelompok Sun Yat Sen dan ide - ide
mereka yang anti dengan kekaisaran. Hal ini berlanjut kepada interogasi
dan penyiksaan kepada mereka yang dianggap terlibat dalam kelompok
nasionalis pimpinan Dr. Sun Yat Sen.

Interogasi
dan penahanan inilah yang kemudian menimbulkan amarah dari kelompok
nasionalis. Tepat pagi hari tanggal 10 Oktober 1911, pecah
pemberontakan di kota Wuchang yang kemudian menjadi sejarah besar bagi
Cina. Betapa tidak, Wuchang Day menjadi awal dari runtuhnya kekaisaran
Cina yang sudah berusia ratusan tahun !!!!. Kaum tentara nasionalis
berhasil menguasai kota Wuchang selama beberapa jam. Walaupun kemudian
tentara kekaisaran berhasil merebut kota itu kembali. Tetapi masalah
bukan justru selesai, tapi malah jadi malapetaka bagi kekaisaran Cina.
Karena kemudian timbul gelombang simpati yang besar di seluruh Cina
bagi gerakan nasionalis, di samping timbul anggapan bahwa kaisar justru
mengirim tentara untuk membunuh rakyatnya sendiri. Setelah Wuchang Day
terjadi, 16 propinsi di China
kemudian mengumumkan bergabung dengan gerakan nasionalis Sun Yat Sen
dan menyatakan memberontak kepada kekaisaran. Dalam setiap gerakannya,
kaum nasionalis selalu membawa bendera dengan gambar 5 garis yang
menandakan 5 etnis besar di Cina, bendera yang kemudian dimodifikasi
menjadi bendera merah dengan 5 bintang seperti bendera Cina sekarang.
Kekaisaran tidak bertahan lama sesudah Wuchang Day terjadi. Kaisar Pu
Yi diturunkan sebagai kaisar (yang digambarkan begitu dramatis dalam The Last Emperor). Dan Cina pun berubah menjadi Republik.

Jika kita merayakan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan di Indonesia, maka 10 Oktober alias Wuchang Day adalah "17 Agustus" versi Taiwan.
Bahkan penghormatan mereka terhadap tanggal bersejarah Wuchang Day ini
begitu penting, sehingga mereka bahkan menggunakan tahun terjadinya
Wuchang Day sebagai tahun awal Republik Cina. Teman - teman mungkin
tahu kalau sekarang ini adalah tahun 96 di Taiwan.
Sudah tahu kan sekarang, kenapa tahun Cina saat ini baru sampai 96 ???
Ya 96 itu menandakan waktu sejak berlalunya peristiwa Wuchang yang
terjadi tanggal 10 Oktober 1911, tepat 96 tahun yang lalu.

Jadi
jika kita menggunakan peristiwa hijrahnya Rasulullah sebagai awal tahun
dalam Islam (tahun hijriah), atau orang barat menggunakan peristiwa
lahirnya Isa Al Masih sebagai awal tahun mereka (tahun Masehi), maka
orang Taiwan menggunakan peristiwa Wuchang sebagai awal tahun dalam penanggalan mereka.

Sayangnya Wuchang Day justru dirayakan di Taiwan,
yang notabene jauh dari tempat asal terjadinya peristiwa bersejarah ini
di Cina daratan. Maklum, sejarahnya setelah perang dunia II Cina
daratan dikuasai oleh kaum komunis Kung Chang Tang pimpinan Mao Zedong,
sedangkan kaum nasionalis Kuomintang pimpinan Sun Yat Sen yang kemudian
beralih ke Chiang Kai Shek yang sebenarnya memicu peristiwa 10 Oktober
justru terusir ke Taiwan. Itulah sebabnya sampai  sekarang Wuchang Day alias Double Ten justru dirayakan di Taiwan.

Jika mungkin kawan - kawan ada yang sempat ke istana kepresidenan di dekat Taipei
Main Station tanggal 10 Oktober besok, mungkin akan ada parade besar.
Dan jangan heran jika nantinya akan ramai tanda ++ dimana - mana. Ini
adalah lambang dari Double Ten Day alias Wuchang Day. Yup simbol +
berarti angka 10 (shi) dalam bahasa Cina. ++ adalah lambang untuk
double ten. Wow, sejarah rupanya tidaklah sesederhana yang kita
bayangkan ya.

Selamat menikmati kemerdekaan di negeri Orang. Berharap kita pun sudah merdeka juga sebagai bangsa.

Xiexie.

- Ma Fu Yue -
- Guoli Taiwan Daxue -
- Dian Gongcheng -
- Taipei Shi, Taiwan -

Love and Taiwanese Typhoon

October 7th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 7 Oktober 2007

Kayaknya aku sedang tergila - gila dengan album lagunya Simply Red yang terbit tahun 1999,"Love and Russian Winter". Jadinya pake judulnya deh sedikit untuk jadi judul blog, he…he….

Tapi bagaimanapun Russian Winter dan Taiwanese Typhoon sama. Dua - duanya kejadian alam yang sangat kejam. Musim dingin Rusia paling mengerikan di dunia, dan taifun di Taipei benar - benar merusak. Dua - duanya juga berlatar belakang perang. Russian Winternya Simply Red berkisah di Kaliningrad saat puncak operasi Barbarossa tahun 1942 antara Jerman dan Uni Sovyet. Bagiku di sini sama saja dengan perang. Apa namanya jika kau harus meninggalkan semua orang yang kau cintai, berada di tempat yang asing, punya satu tujuan besar yang harus kau lakukan dan niat sudah terpasang untuk tidak kembali sebelum selesai, di tengah kondisi yang menyulitkan. Yah, master degree disini adalah perang.

Tapi tentu ada "love" alias cinta di dalamnya. Disini aku selalu merindukan kekasihku. Anyway tadi taifun dah agak reda, dan aku buka puasa di masjid kecil Taipei di dekat Taipower Building. Menunya, kuliner Pakistan !!!! Nasi kare dengan bumbu yang unik, roti khas Pakistan, wow enakkkkkk bgt. Penuh nuansa persaudaraan. Orang Pakistan punya tradisi untuk melayani langsung tamunya, dan makan bersama dari satu pinggan. Enak banget tadi, entah kenapa aku lebih merasakan nuansa ukhuwah disini.

Ow….aku jarang olahraga nih. Sepertinya ritme aktivitas sehari - hari harus lebih diatur. PR photonics dah selesai, tapi topik tesis belum (harus minggu ini lho….), dan resume wireless dah setengah jalan. Ah…aku masih belum produktif. Tingkatkan lagi, dan rasakan menjadi mahasiswa master degree langsung dari dalam hati.

Nikmati saat menjadi mahasiswa, saat mengembangkan intelektualitas dan ide.

Sesuatu yang tidak bisa kurasakan dulu, dan malah bikin mati rasa.

Zaijian

- Ma Fu Yue, (cand) M. S. -

Typhoon !!!!!!

October 6th, 2007 by brigjen-sorong

Taipei, 7 Oktober 2007

Kemarin badai besar baru saja melanda kota Taipei. Taifun sebutannya disini, atau Typhoon dalam bahasa Inggris. Terpaksa deh kerjaan di kamar aja, iseng sambil melahap buku Wide Gap dan buku Photonics sambil mencicil PR yang mulai menumpuk. Asyik deh.

Aku sebenarnya agak ngeri dengan angin ribut. Satu - satunya yang bikin aku trauma sih, ketimbang gempa atau banjir atau kebakaran. Aku sudah pernah mengalami semuanya. Tapi angin kencang adalah yang paling aku takutin. Mungkin karena bayangan bahwa angin topan dapat ikut menyeret manusia ke dalamnya, sehingga aku ngeri jika aku ikut terseret  bersama angin itu.

Taifun konon sudah dianggap sebagai salah satu musim tersendiri bagi oang Taiwan. Musim Taifun. Hm….aneh karena ini adalah bencana alam. Tapi bencana yang satu ini sudah sedemikian biasa bagi orang Taiwan, sehingga mereka selalu sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelu si Taifun datang. Dan Taifun disini datang hampir tiap tahun. Beda dengan Jakarta, di Jakarta juga ada bencana tahunan. Banjir !!!!!!! Tapi pemerintah selalu dan selalu tidak  siap.

Tapi sepertinya aku mulai harus memperhatikan kondisi fisikku nih. Pertama, tidur berlebihan. Kupikir ritme tidurku disini berubah, mungkin karena kondisi kota  yang berbeda dengan di Indonesia. Tidak ada adzan yang akan membangunkan kita di waktu subuh, so…bablas deh……Pengalamanku menstabilkan waktu tidur benar - benar sulit. Kita coba deh.

Dan aku rasa aku pun sudah harus mulai berolahraga. Melemaskan kaki. Entah dengan naik sepeda atau jalan kaki keliling kampus. Aku lupa satu hal waktu aku tiba di Taipei. Aku orang yang suka membaca, dan sangat tidak suka buang - buang waktu. Jadi biasanya kalo lagi iseng aku membawa buku bacaan untuk dibaca. Novel, atau sejenisnya yang ringan. Tapi aku gak membawanya sama sekali disini !!!! Hu..hu….Mana bisa kan aku baca novel Cina. Untung buku Wide Gap-nya masih tergolong ringan untuk dibaca. So…ganti deh baca buku kuliah kemana - mana, walaupun dibilang aneh sama orang.

OK. Master of Science is on the move. Gak bakal kupakai deh gelar Sarjana Teknik-ku kalau dah dapat MS alias Master of Science dari sini.

- Muhammad Rizki Ramadhani, S.T. -
- Ma Fu Yue, (cand) M.S. -